Tuntut Pekerjaan, Aktivitas RWI Banyu Urip Dihentikan

Minggu, 12 Juli 2020, Dibaca : 880 x Editor : nugroho

Ist
DIHENTIKAN : Pemuda Sudu menghentikan aktivitas pekerja RWI Banyu Urip di jalan poros Desa Sudu.


SuaraBanyuurip.com - d suko nugroho

Bojonegoro - Selain melakukan demo di lokasi proyek metering gas processing facility (GPF) JTB, pemuda Sudu, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, menghentikan aktivitas PT. Cipta Krida Bahari (CKB), kontraktor ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), yang melaksanakan pekerjaan maintenance (perawatan) River Water Intake (RWI) di desa setempat, Minggu (12/7/2020).

Mereka menuntut agar EMCL dan kontraktornya memperkerjakannya di Lapangan Minyak Banyu Urip, Blok Cepu. River Water Intake adalah pipa untuk pengambilan air dari Sungai Bengawan Solo untuk kebutuhan produksi yang ditampung di water basin (waduk buatan).

Baca Lainnya :

    "Lokasi RWI itu ada di desa kami, setiap hari melewati jalan poros desa, tapi pemuda di sini sulit bekerja di Lapangan Banyu Urip. Justru yang menikmati orang luar daerah," ujar M Nur Cahyono saat menghentikan pekerja PT RWI.

    Kepala Desa Sudu, Abdul Manan membenarkan adanya aksi tersebut. Menurut dia, pemdes telah meminta kepada PT CKB untuk menghentikan aktivitasnya lebih dulu sampai ada pertemuan. 

    Baca Lainnya :

      "Tapi kendaraan mereka tetap beroperasi, terpaksa hari ini kami stop," tegas Manan. 

      Menurut Manan, EMCL maupun kontraktornya sangat minim melibatkan pemuda maupun perusahaan lokal Sudu di Lapangan Banyu Urip. Dari 250 pemuda, baru 13 orang yang bekerja yakni lima orang sebagai security, dan sisanya sebagai sopir. 

      "Sedangkan 33 warga kami yang sebelumnya bekerja sebagai tukang potong rumput, tapi dipecat dengan alasan wabah virus corona. Padahal setiap hari ada ratusan kendaraan yang terparkir di dalam. Semunya orang luar desa sini, orang sini hanya jadi penonton," tuturnya.

      Manan mengungkapakan, pihaknya sudah dua bulan mengajukan permohonan kepada EMCL dan kontraknya agar melibatkan warga Sudu.

      "Tapi selalu dijanjikan akan dilaporkan ke manajamen. Sampai hari ini belum juga ada kabarnya," tandas kepala desa yang dilantik pada 17 April 2020 itu. 

      Manan menuntut EMCL dan semua kontraktornya yang melakukan pekerjaan di Lapangan Banyu Urip untuk melibatkan pemuda dan perusaan lokal Sudu.

      "Kalau perusahaan luar daerah bisa bekerja di dalam, perusahaan di sini juga harus bisa. Begitu juga orang luar daerah bisa bekerja di situ, warga kami juga harus bekerja di situ," tegas pria yang sudah dua kali menjabat kepala desa itu.

      Rencananya permasalahan tersebut akan dibahas dalam pertemuan di Balai Desa Sudu, Senin (13/7/2020).

      "Iya besok jam 11 siang kita akan ada pertemuan dengan EMCL dan kontraktornya," pungkas Manan. 

      Juru Bicara dan Humas EMCL, Rexy Mawardijaya belum memberikan jawaban terkait permasalahan tersebut. Pesan WhatsApp yang dikirimkan suarabanyu urip pukul 11.32 Wib, hanya dibuka belum dibalas. (suko)






      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more