Usia 76 Tahun, Santoso Tetap Membuat Wayang Thengul Khas Bojonegoro

Jum'at, 01 Januari 2021, Dibaca : 194 x Editor : nugroho

joko kuncoro
TETAP BERTAHAN : Santoso menunjukkan salah satu karyanya Wayang Thengul untuk menyelamatkan budaya wayang asli Bojonegoro.


SuaraBanyuurip.com - Joko Kuncoro

Bojonegoro - Sore itu, ia memakai kaus oblong berwana putih. Ia mengukir wayang dan memahat permukaan kayu dengan teliti di teras rumahnya. Ia tak lain Santoso, pembuat wayang thengul asli Bojonegoro. Kini usianya sudah 76 tahun.

Santoso memutuskan untuk terus membuat kesenian wayang karena untuk menyelamatkan budaya wayang asli Bojonegoro, Jawa Timur. Ia bercerita, sekitar tahun 1980, ia mulai membuat wayang thengul. Kesukaannya akan kesenian wayang sejak masih sekolah dasar.

Baca Lainnya :

    "Karena, kita sebagai orang Jawa yang memiliki budaya sendiri juga harus nguri-uri dan menjaga budaya yang diwariskan,” katanya, Jumat (1/1/2021).

    Meski usia tak muda lagi, hingga kini Santoso masih konsisten merawat kesenian wayang. Mulai dari wayang krucil, kulit, dan thengul ia buat dengan tangannya sendiri. Dia sudah mahir membuat wayang. Namun kini dalam sehari Santoso hanya mampu membuat satu wayang karena tenaganya terbatas.

    Baca Lainnya :

      Menurut Santoso wayang thengul lebih sulit pembuatannya dibandingkan jenis wayang lain yang ia buat. Lelaki asal Dusun Kalangan Desa/Kecamatan Padangan ini mengaku, membuat wayang thengul rumit karena mulai dari mengukir bentuk wajah, pengecatan, dan membuat baju harus dengan teliti.

      "Yang rumit itu menjahit baju dan memasangnya. Karena, itu harus sesuai ukuran bentuk wayang. Dan saya mengerjakan semua itu sendiri," katanya ditemui di rumah.

      Pada 1990, Santoso pernah mendapat pesanan dari Soeharto, Presiden Indonesia. Pesanan itu berupa dua kotak wayang. Menurut dia, itu menjadi kebanggaan karena bisa memperkenalkan budaya asli Bojonegoro. Namun, kakek berusia 76 tahun itu mengeluhkan, jarang ada generasi muda yang tertarik dan mempelajari wayang.

      Menurut dia, generasi muda lebih memilih pekerjaan lain dibandingkan membuat wayang. Padahal, seni budaya wayang thengul ini asli Bojonegoro yang harus dijaga. Apalagi, lanjut perajin wayang di Bojonegoro sudah jarang ditemui.

      "Bahkan, di Padangan ini perajin wayang hanya saya saja," ungkapnya.(jk)


      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more