Wabup Ajak Masyarakat Menjauhi Bahaya Laten Radikalisme

Kamis, 29 April 2021, Dibaca : 119 x Editor : samian

Samian Sasongko
SEMINAR KEBANGSAAN : Wabup Budi Irawanto mengajak masyarakat menjunjung tinggi toleransi dan menjahui bahaya laten radikalisme.


SuaraBanyuurip.com - Samian Sasongko

Bojonegoro - Wakil Bupati (Wabup) Bojonegoro, Drs. H. Budi Irawanto M.Pd mengajak masyarakat menjunjung tinggi toleransi dan menjahui bahaya laten radikalisme. Dimana bahaya laten radikalisme sering kali sulit terdeteksi. Ajaran-ajaran radikal ini menyusup ke ruang kelengahan masyarakat.

Sehingga, menangkal radikalisme tidak bisa sendirian. Mencegah dan memerangi radikalisme merupakan tugas bersama. Termasuk di wilayah pendidikan seperti kampus - kampus yang ada di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Baca Lainnya :

    Hal tersebut diungkapkan Mas Wawan sapaan akrab Wabup Budi Irawanto dalam pemaparannya di Seminar Kebangsaan yang diadakan oleh Kampus IKIP PGRI Bojonegoro, Kamis (29/04/2021). 

    Seminar yang bertajuk “Intoleransi Terhadap Radikalisme di Masyarakat” menghadirkan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bojonegoro, Kapolres Bojonegoro, dan perwakilan ExxonMobil Cepu Limited (EMCL).

    Baca Lainnya :

      “Kampus seringkali menjadi tempat yang empuk untuk penyebaran faham-faham radikalisme. Mahasiswa yang mulai kritis dan dialektika akademik di kampus yang lebih dinamis memberi ruang bagi agen-agen radikalisme,” papar Mas Wawan.

      Menurutnya, mahasiswa adalah gerbang utama penerus bangsa. “Jika kita tidak peduli dengan gerbang utama itu, maka kita gagal menjaga penerus bangsa,” tegas Wabup Budi Irawanto, dihadapan para dosen dan mahasiswa.

      Bagi Wawan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro memiliki kewajiban untuk menjaga warganya dari bahaya ini. Pemkab juga harus menjaga keutuhan warganya dalam berbangsa dan bernegara, serta memperkuat rasa cinta tanah air. Caranya dengan menciptakan kesejahteraan masyarakat, mempererat hubungan antar elemen, dan tetap merakyat.

      “Karena itu, jika Bupati dan Wakil Bupati melenceng dari kewajibannya mensejahterakan masyarakat dan memecah belah keutuhan warga, maka saya siap dikritik. Jika saya tidak dekat dengan masyarakat, atau tidak membela masyarakat kecil, teriaki saya,” beber Mas Wawan.

      Pada kesempatan yang sama, Kapolres AKBP Eva Guna Pandia, yang diwakili Kasat Binmas AKP Sujono menyampaikan, bahwa radikalisme ini berawal dari orang yang mudah terpengaruh dan mudah membenarkan segala sesuatu tanpa memastikan terlebih dahulu.

      "Jangan berprasangka dan jangan mudah terpengaruh, cari tahu dulu melalui internet atau buku maka kita bisa mengerti apakah hal yang diinformasikan ke kita benar atau salah," ungkapnya.

      Sementara Ketua MUI Bojonegoro KH. Alamul Huda menjelaskan, bahwa pendidikan memiliki peranan penting dalam menjaga persatuan dan kesatuan. Pendidikan sangatlah penting karena menjadi pencegah radikalisme.

      Orang-orang penganut radikalisme, kata Gus Huda, adalah orang yang tidak cinta Indonesia dan tidak memahami apa itu agama. Mereka suka menyalahkan orang lain dan merasa paling benar.

      "Maunya benar sendiri, menang sendiri,” ucapnya.

      Gus Huda mencontohkan, ilmu sapu lidi. Sapu ini terdiri dari sekian ratus batang lidi. Jika tidak diikat, maka lidi tersebut akan tercerai berai, tidak berguna dan mudah dipatahkan. Tetapi jikalau lidi-lidi itu digabungkan, diikat menjadi sapu, tidak ada manusia bisa mematahkan sapu lidi yang sudah terikat.

      “Jika kita bersatu, orang paling kuat pun bisa dikalahkan, maka mari bersatu,” imbuhnya.

      Ditempat yang sama, External Affairs Manager Ichwan Arifin menyatakan, bahwa radikalisme sangat fundamental. Maka semua harus berkolaborasi untuk mencegahnya.

      Kata Ichwan, dulu Presiden Soekarno menggaungkan rasa nasionalisme sebagai bentuk kebersamaan Indonesia.

      "Mari kita membangun bersama-sama menjadi riwayat yang sama untuk memajukan bangsa Indonesia," ajak aktivis sekaligus kolumnis itu.

      "Seminar kebangsaan ini adalah bentuk upaya menangkal radikalisme," ujar Rektor IKIP PGRI Bojonegoro Dr Junarti M. Pd.

      Dalam acara seminar kebangsaan ini juga dihadiri anggota Komisi C DPRD Bojonegoro, Natasha Devianti, elemen aktivis mahasiswa, para dosen, dan mahasiswa IKIP PGRI Bojonegoro.(sam)


      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more