Warga Blora Disarankan Waspadai Penyakit Kencing Tikus

Rabu, 08 Januari 2020, Dibaca : 222 x Editor : rozaqy

Ist
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blora Lilik Hernanto


SuaraBanyuurip.com - Ahmad Sampurno

Blora - Warga Kabupaten Blora, Jawa Tengah diminta waspada penularan leptospirosis atau kencing (urine) tikus yang terkontaminasi pada air di musim penghujan tahun ini.

"Leptospirosis atau kencing tikus termasuk penyakit menular yang rentan menjangkit khususnya korban banjir. Penyakit ini disebut kencing tikus karena ditularkan melalui hewan, yang paling umum adalah tikus," jelas Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blora Lilik Hernanto, di Blora, Rabu (8/1/2020).

Baca Lainnya :

    Penyakit kencing tikus ini dapat menular dari hewan ke manusia. Ketika seseorang memiliki luka pada kulit lalu bersentuhan dengan air atau tanah yang terkontaminasi kencing tikus.

    “Saran kami, pakailah alas kaki dan pelindung lainnya. Apalagi di Blora ini hewan tikus tergolong merajalela. Tikus itu bisa buang kotoran atau kencing dan bercampur dengan air seperti di kubangan, selokan atau air akibat banjir,” ujarnya.

    Baca Lainnya :

      Menurut dia, kasus leptospirosis di Blora pernah ada sekitar dua hingga tiga tahun lalu.Tapi tidak banyak.

      "Kalau di wilayah lain, terutama yang rawan banjir kasus laptospirosis sudah banyak terjadi,” tandasnya.

      Beberapa bakteri yang menyebabkan leptospirosis ini dapat berkembang menjadi penyakit weil atau meningitis yang berakibat fatal. Kondisi ini biasanya tidak menular dari satu orang ke orang lainnya.

      Disampaikan, Lilik Hernanto, pada umumnya orang akan mulai mengalami gejalanya setelah dua hingga empat minggu terkena paparan. Penyakit ini biasa terjadi tiba-tiba dengan demam dan gejala lainnya.

      Adapun dua fase terjadinya leptospirosis atau kencing tikus, yaitu setelah fase pertama (dengan demam, kedinginan, sakit kepala, nyeri otot, muntah, atau diare) pasien dapat pulih untuk sementara waktu tetapi akan sakit kembali.

      Jika fase kedua terjadi, itu lebih parah. Orang tersebut mungkin mengalami gagal ginjal atau hati atau meningitis.

      Umumnya, penyakit kencing tikus ini berlangsung beberapa hari hingga tiga minggu atau lebih. Tanpa pengobatan, pemulihan orang dengan penyakit kencing tikus mungkin menghabiskan waktu berbulan-bulan.

      Selain leptospirosis, lanjut Lilik, warga masyarakat juga diminta waspada terhadap penyakit seperti Inveksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA), diare dan demam berdarah.

      “Segera minta pertolongan ke petugas medis terdekat jika mengalami Gastroenteritis atau penyakit yang disebabkan karena infeksi virus dan bakteri,” kata dia.

      Khusus untuk antisipasi demam berdarah, kata Lilik, warga masyarakat diminta untuk meningkatkan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara kontinyu dan rajin menjaga kebersihan. Melalui Gerakan 3M yakni menguras, menutup dan mengubur perlu lebih ditingkatkan.

      Seperti menguras bak mandi, vas dan tempat penampungan air minimal satu minggu sekali. Menabur bubuk abete atau altosid pada tempat-tempat penampungan air yang sulit dikuras.

      Kemudian menutup rapat-rapat tempat penampungan air. Atau, memelihara ikan di tempat-tempat penampungan air. Berikutnya, mengubur barang-barang bekas yang dapat menampung air.

      “Perilaku hidup bersih bisa dilakukan baik untuk diri sendiri, rumah maupun lingkungan,” jelasnya.

      Mengonsumsi makanan bergizi untuk kesehatan prima, lanjutnya, adalah kunci untuk memperkuat pertahanan tubuh agar lebih kuat terhadap infeksi virus atau kuman penyebab penyakit.

      “Untuk fogging tetap kita lakukan di daerah endemis,” katanya.

      Sedangkan pelayanan kesehatan, kata Lilik Hernanto, Puskesmas siaga 24 jam, termasuk di kawasan daerah aliran sungai yang rawan banjir.

       “Obat-obatan tersedia cukup,” pungkasnya. (Sam)

       

       


      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more