SuaraBanyuurip.com –Â Abdul S.
Tradisi nyadran atau manganan ternyata masih dilakukan oleh masyarakat desa sekitar lapangan Banyuurip dan Jambaran Kecamatan Ngasem. Ditengah hiruk-pikuk proyek pengembangan lapangan migas Blok Cepu, masyarakat dusun Sumurpandan, desa Gayam, tetap menggelar tradisi tahunan yang diwariskan dari para nenek moyangnya.
Ribuan tumpeng dikumpulkan dimakam dusun setempat, yang diyakini sebagai punden seorang leluhur yang menjadi cikal bakal berdirinya dusun Sumurpandan. Mereka melakukan tasyakuran atas berkah yang telah dihasilkannya dari bumi Sumurpandan.
“Niki tradisi nenek moyang engkang kedah diuri-uri. Menawi mboten, warga kuatir pagebluk bakal tumeko ing Sumurpandan mriki.(Ini tradisi dari nenek moyang yang harus dilaksanakan. Sebab jika tidak warga kuatir balak (musibah) bakal menimpa Sumurpandan,†ujar Mbah Muso, juru kunci kuburan dusun Sumurpandan, kepada suarabanyuurip.com, disela-sela acara nyadran Jumat siang (08/07/2011).
Dijelaskan, acara sedekah bumi ini dilakukan setahun sekali setelah musim panen tiba. Menurutnya, ritual ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan dan para leluhurnya yang telah menjadikan bumi dusun Sumurpandan sebagai tempat tinggal dan mencari makan.
Ditambahkan, acara sedekah bumi di Sumurpandan, dilaksanakan pada hari Jumat Pahing, dengan hiburan wayang krucil yang konon menjadi kesukaan Sang Pundeng Mbah Lurah Sumurpandan.
Sementara itu, sebelum melaksanakan acara puncak nyadran, dilakukan tahlilan dan ziarah kubur. Tahlilan dilakukan Kamis malam dan Jumat siang sebelum pagelaran wayang krucil digelar. Â