SuaraBanyuurip.com – Ririn W
Jumlah penderita gizi buruk di daerah sekitar tambang migas Blok Cepu masih cukup tinggi. Â Hingga Janurai lalu, terdapat 354 balita penderita gizi kurang dan gizi buruk. Ratusan balita tersebut tersebar di 20 desa di tiga kecamatan di Kabupaten Bojonegoro yang merupakan ring I Blok Cepu.
Yakni di Kecamatan Ngasem, Kalitidu dan Dander. Di Kecamatan Ngasem diantaranya meliputi Desa Sendangharjo, Ngasem, Bandungrejo, Gayam, Mojodelik, Bonorejo, Brabowan, Ringntunggal, dan Begadon. Di Kecamatan Kalitidu adalah Desa Katur, Sumengko, Beged, Sudu, Ngraho, dan Talok. Sedangkan di Kecamatan Dander yakni Desa Dander dan Ngunut.
“(20 Desa) Itu yang menjadi sasaran program kami,†kata Relawan Gizi PKPU, Dwi Dian Paramita disela-sela studi banding (stuba) penanganan gizi buruk (postive devecation/PD) di Desa Tejo, Kecamatan Kanor, Selasa (15/5).
Dian menjelaskan, ada beberapa faktor yang menyebabkan masih tingginya jumlah gizi buruk disekitar lapangan migas Banyuurip – Jambaran tersebut. Yakni pola asuh yang salah, serta rendahnya tingkat ekonomi masyarakat dan sumber daya masyarakat (SDM) ibu.
“Ibu-ibu disana cenderung pasif. Mereka biasa saja ketika melihat anaknya sehat meski kurang gizi. Itu bisa disebabkan dua hal, karena tidak mampu membeli makanan bergizi karena rendahnya ekonomi dan minimnya pengetahun,†jelas wanita berjilbab asli Desa Sukorejo, Kecamatan Bojonegoro ini.
Disamping itu, lanjut dia, penyebab lainnya adalah masih rendahnya kesadaran ibu-ibu untuk mengunjungi dan mengikuti program posyandu serta kurangnya dukungan dari pemerintah desa (pemdes).
“Mereka baru mau mengunjungi Posyandu kalau ada  pemberian makanan tambahan (PMT) gratis. Ketergantungan kepada pihak lain inilah yang menjadikan mereka tidak memiliki insiatif dan berkretaif mengatasi permasalahan itu. Apalagi itu ditunjang kurangnya dukungan dari pihak desa,†papar Dian.
Untuk menangani permasalahan gizi buruk tersebut, kata Dian, PKPU bekerjasama dengan Mobil Cepu Limited (MCL), Operator Blok Cepu, dan Dinas Kesehatan Bojonegoro melaksanakan program pemberian makanan tambahan (PMT). Ada beberapa kegiatan yang dilaksanakan yakni pemberian PMT secara rutin, studibanding positive devecation (PD) dan home visit.
“Kita juga mendampingi dan memberikan penyuluhan dan konsultasi secara rutin kepada ibu-ibu balita secara dor to dor (rumah ke rumah). Cara ini lebih efektif ketimbang dilakukan secara kelompok,†pungkasnya.