SuaraBanyuurip.com – D Suko Nugroho
Pergantian operator gas Jambaran Blok Cepu dari tangan Mobil Cepu Limited (MCL) ke Pertamina EP belum bisa dipastikan. Karena proses unitisasi sumur gas Jambaran dengan sumur gas Tiung Biru (TBR), Blok Gundih, masih menunggu penyelesaian plan of development (PoD).
“Sekarang ini kita bersama Pertamina masih menyusunan PoDnya,” kata Sr. Vice President Exploration and External Relations ExxonMobil, Asep Sulaeman, Selasa (22/5) di Jakarta.
Dijelaskan, penyusunan PoD unitasi Jambaran – TBR itu dilakukan untuk mengetahui jumlah cadangan gas dimasing-masing blok. Selain itu juga untuk menentukan besaran biaya yang akan dikeluarkan untuk mengeksplorasi dan mengeskploitasi kedua lapangan serta pembagian keuntungan yang akan diperoleh masing-masing operator.
“Setelah selesai disusun akan kita ajukan ke BP. Migas dan Departemen energi dan sumber daya mineral (ESDM) untuk mendapat persetujuan,” papar pria yang sudah 30 tahun bekerja di ExxonMobil ini.
Hanya saja, dia belum bisa memastikan kapan penyusunan PoD itu selesai dan mendapat persetujuan dari Bp. Migas dan Kementerian ESDM.
“Pada prinsipnya kita sudah ada kesepakatan-kesepakatan dengan Pertamina. Tinggal mendapat persetujuan saja,” tegas Asep.
Menurut dia, unitisasi sumur gas Jambaran tersebut dilakukan karena sumur gas jambaran dengan TBR merupakan satu lamparan. Artinya, sebagian sumur gas TBR sebagian berada di wilayah kerja pertambangan (WKP) exxon.
“Secara bisnis tidak ada yang dirugikan. Karena PoD yang disusun bersama saling menguntungkan kedua belah pihak,” tegas Asep.
Seperti diketahui, Sumur TBR seratus persen milik Pertamina EP. Karena berada satu lamparan dengan sumur gas jambaran, perusahaan milik negara ini ingin meunitisasi dan menjadi operator. Apalagi baik Pertamina EP maupun ExxonMobil masing-masing memiliki saham 45 persen di Blok Cepu.Â