SuaraBanyuurip.com – Teguh Budi Utomo
IBARAT sebuah orkestra, Gamelan kental dengan nilai harmoni. Musik tradisi yang lahir di era kerajaan Mataram (Jawa) ini, tak sebatas satu piranti. Gamelan hanya bisa disebut gamelan, jika harmonisasi sekian banyak perangkatnya dimainkan bersama.
Piranti yang ditabuh sekian banyak nayaga (sebutan pemain gamelan) saling mengisi dengan nama dan suara berbeda. Akan tetapi mampu menghasilkan warna serupa. Sarat keharmonisan meski terlahir dari pelbagai bentuk dan latar belakang tak sama.
“Filosofi Gamelan terasa tepat untuk mengapresiasi tema IPA saat ini. Masing-masing kontraktor memiliki latar belakang berbeda, namun memiliki satu sikap untuk saling kerjasama, konsultasi dan koordinasi,†kata Elisabeth Proust, President Indonesian Petroleum Assosiation (IPA), dalam sambutannya pada pembukaan The 36th IPA Convention and Exhibition 23-25 May 2012 di Jakarta Convention Centre.
President Director dan General Manager Total E&P Indonesia berkebangsaan Perancis ini menilai, Gamelan tak bisa melahirkan harnonisasi bunyi indah jika tidak saling mengisi antara perangkat satu dengan yang lain. Diantara mereka musti terjadi saling menghargai dan menutup perbedaan agar terjadi keselarasan dalam sebentuk perhelatan.
“Nilai saling koordinasi antara perusahaan itulah yang menjadikan IPA sebagai asosiasi yang kuat dalam mengembangkan migas di Indonesia. Itu tak jauh berbeda dengan Gamelan,†ungkap alumni Teknik Perminyakan the French Petroleum Institute yang menggantikan posisi Jim Taylor sebagai President IPA sejak 19 April 2012 itu.
Perempuan berambut blonde berbusana kebaya dipadu baju terusan batik warna kuning itu, terlihat antusias mengungkap filosofi Gamelan. Gamelan bagi Elisabeth Proust bukan sekadar seni tradisi. Lebih dari itu, Gamelan mampu melahirkan harnomi dari sekian banyak perangkat yang berbeda. Perbedaan itu menjadi indah manakala teralas dalam sebuah kesepahaman bersama.
“Itulah kelebihan dari Gamelan, yang tepat untuk menjadi tema dalam konvensi dan eksebisi IPA ke 36 kali ini,†paparnya ketika mengupas lembaga non profit yang berdiri pada 1971 yang baru dipimpinnya itu. Â
Sebagai organisasi non profit yang menjadi representasi hampir seluruh sektor hulu minyak dan gas bumi Indonesia, IPA berharap bisa dilibatkan dalam setiap terjadinya perubahan regulasi pemerintah Indonesia. Terlebih untuk regulasi bidang peminyakan dan gas. Termasuk pula mendorong lingkungan yang kondusif dan kompetitif untuk sektor minyak dan gas bumi.
Pada bagian lain, Elisabeth Proust mengungkapkan, belakangan terjadi salah persepsi tentang cost recovery, terkiat pula dalam PP 79/2010. Bahkan jika terjadi perubahan regulasi UU 22/2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, semisal hingga diamandemen Mahkamah Agung (MA), Â IPA berkeinginan untuk berkonstribusi. Mulai proses hingga akhir sehingga bisa memberi konstribusi untuk kemajuan sektor tersebut.
“IPA membuka kesempatan bagi pemegang kepentingan bertemu untuk olaburasi dan saling membantu bagi investasi migas di Indonesia,†papar Elisabeth Proust.
Bagi Elisabet Proust, nilai konsultasi, koordinasi dan kerjasama hanya bisa dilakukan jika diantara yang berkepentingan memiliki semangat sama. Semangat kebersamaan sebagaimana filosofi Gamelan. “Saling mengisi kekurangan dan kelebihan, sehingga melahirkan harmoni seperti Gamelan,†demikian ungkap perempuan yang malang melintang di ranah Migas ini.
Lain dari itu, IPA telah mendorong anggotanya untuk terlibat aktif dalam kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR). CSR adalah program yang tak bisa dipisahkan dengan aktivitas indusri, termasuk industri migas tentunya.
Sedangkan Menteri ESDM Jero Wacik mengapresiasi IPA sebagai lembaga yang telah memiliki kontribusi terhadap migas di tanah air. Apalagi ketika filosofi Gamelan menjadi tema dalam helat IPA ke 36 tersebut.
“Filosofi Gamelan ini sangat agung, disana ada berbagai alat dengan bunyi dan warna berbeda. Namun bunyi yang dihasilkan melahirkan kekompakan yang harmoni,†kata Jero Wacik ketika membuka perhelatan tersebut.
Pemerintah dan industri migas, tambah dia, harus membangun kerjasama. Pemerintah membantu industri, sebaliknya industri migas juga harus care terhadap program pemerintah.
Disanalah nilai hakiki dari Gamelan muncul. Gamelan menawarkan koordinasi. Gamelan pula yang sanggup merekat berbagai rasa yang berbeda, untuk berjalan bersama dalam koridor sewarna bagi kemajuan industri migas di bumi nusantara. (tg)