Testimoni Mahasiswa Peserta Program CSR Pendidikan

Laila

SuaraBanyuurip.com – Teguh Budi Utomo

“Dari segi CSR, program pemberian beasiswa merupakan ajang promosi bersahabat. Dimana CSR merupakan bagian tanggung jawab perusahaan  yang menaungi masalah sosial, ekonomi dan lingkungan.”

Demikian ungkap, Nurlaila Shofianita, mahasiswi jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (Mipa) ITS Surabaya kepada SuaraBanyuurip.com ketika diminta tanggapan tentang program Corporate Social Responsibility (CSR) bidang pendidikan dari PT Semen Gresik (Persero) Tbk, di Tuban.

Program bantuan beasiswa untuk anak-anak berprestasi dari desa sekitar pabrik semen di Desa Sumberarum, Kecamatan Kerek, Tuban (Jatim) itu, menurut gadis berjilbab ini, merupakan solusi kongkrit dari konstribusi industri kepada warga sekitar. Apalagi selama ini desa-desa yang masuk ring 1 maupun ring 2 pabrik, merupakan mitra tak terpisahkan dari pabrik berstatus BUMN.

Bagi Laila, demikian aktivis mahasiswa ITS ini akrab disapa, beasiswa yang diterimanya dari PT SG baai pemantik prestasi. Di samping mendapat jaminan materi selama melakoni pendidikan, juga sebagai ajang membangun komunitas untuk mematangkan diri secara emosi, religi dan akademika.

Perempuan muda berperforma sederhana asal Desa Tuwiri Wetan, Kecamatan Merakurak, Tuban ini menilai, program bantuan pendidikan ala pabrik semen ini turut membantu mengentaskan minimnya pendidikan karena alasan kemiskinan. Ini juga bisa menjadi bukti adanya kepedulian perusahaan terhadap kondisi sosial, ekonomi dan lingkungan masyarakat sekitar.

“Dari segi ekonomi hal tersebut akan membawa dampak positif bagi masyarakat miskin yang kurang mendapat pendidikan,” ujar putri dari pasangan suami istri, Mursodo dan Ny Shofiatun tersebut.

Yang pasti, menurut Laila, bagi masyarakat kurang mampu tentu saja pemberian beasiswa tersebut memberikan kesempatan besar untuk menyekolahkan anak-anaknya. Karena di area ring 1 pabrik, terutama di Desa Tuwiri Wetan, masih banyak anak-anak usia sekolah yang tak bisa melanjutkan sekolah karena dari keluarga kurang mampu.

Baca Juga :   Komisaris Utama PEPC Dialog dengan Mitra Program PPM dan Masyarakat JTB

Laila memiliki cerita tersendiri dalam program ini. Sejak kelas 3 di SMP dia mendapatkan beasiswa pendampingan berupa bimbingan belajar PT SG. Kala itu dijanjikan jika lulus dan bisa diterima di SMAN 1 atau SMKN 1 Tuban akan mendapatkan beasiswa lagi, dengan syarat nilainya harus bagus. Akhirnya bisa masuk SMAN 1 Tuban.

Setelah lulus dari SMAN 1 Tuban, kembali ada program beasiswa dari PT SG yaitu program beasiswa untuk S1. Dengan catatan bisa diterima di 10 Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia. Yaitu; ITS, ITB, Unair, UI, Undip, UGM, Unhas, Unand, UB dan Unpad. Seleksinya sangat ketat karena harus bersaing dengan ratusan bahkan ribuan orang untuk memperebutkan 100 tempat sebagai penerima beasiswa S1.

“Alhamdulillah  saya salah satu yang ikut terpilih mendapat program beasiswa S1 dari PT SG,” paparnya. “Dan Saya berterima kasih pada PT SG atas segala program beasiswa yang diberikan,” tandasnya.

Manfaat bagi penerima program bukan hanya bantuan dari segi materi, lebih dari itu menjadi memotivasi dan tantangan tersendiri bagi penerimanya. Bagi 100 penerima beasiswa S1, telah terjalin komunitas untuk menambah teman dan wawasan. Bukan hanya dalam hal akademik, tetapi pengembangan soft skill.

Terlebih dalam mengembangkan programnya, PT SG tidak hanya memberikan beasiswa tetapi juga memberikan kesempatan dalam acara gathering bagi penerimanya. Banyak kegiatan yang dilakukan dalam komunitas 100 mahasiswa PTN penerima beasiswa tersebut. Diantaranya dalam bentuk outbond, pengenalan perusahaan dan beberapa program peningkatan SDM lainnya.

Baca Juga :   Awal Desember, Pertamina Realisasikan CSR Kedungpupur

“Sedangkan impian PT SG adalah ingin mewujudkan putra-putra Tuban yang berkualitas dan mampu mengembangkan PT SG dan daerahnya,” katanya.

Memang bukan hanya Laila saja penerima program beasiswa ini. Masih banyak Laila yang lain, karena di Tuban saja sejak program CSR bidang pendidikan digulirkan pada 2008 telah ada 40.000 peserta program mulai siswa tingkat SD/MI hingga mahasiswa di perguruan tinggi. Besar dana untuk program ini, mengacu pada tahun 2011 lalu, sekitar Rp 5 miliar setahun.

Laila cukup mafhum tentang kondisi daerahnya saat ini. Baginya kecerdasan akademik bukan hal utama yang harus dipersiapkan dalam menghadapi masa depan. Apalagi tingkat persaingannya semakin ketat.

“Kita harus berani berinovasi dan mengambil tantangan untuk membuktikan diri. Beasiswa ini saya jadikan acuan untuk mengembangkan diri dalam bidang akademik, spiritual dan emosional,” tegasnya. Dia sadari saat ini Tuban membutuhkan generasi penerus yang arif dan mengerti tentang potensi-potensi daerah. Mereka harus benar-benar siap, tanpa harus saling curiga dalam menjalani peran kemasyarakatan.

Dia berharap program pemberian beasiswa ini lebih dikembangkan. Sehingga akan lebih banyak lagi anak-anak berprestasi dari keluarga kurang mampu yang menerima manfaatnya. Apalagi PT SG yang dia tahu tidak main-main dalam program penyiapan SDM bagi siswa berprestasi dari warga sekitar. (tg)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *