SuaraBanyuurip.com – Ririn W
Bojonegoro – Tim Optimalisasi Kandungan Lokal Pemkab Bojonegoro mempertemukan Operator Sumur Sukowati, Joint Operating Body Pertamina PetroChina Est Java (JOB-PPEJ) dengan warga Dusun Mlaten, Desa Campurejo, Kecamatan Kota, Kabupaten Bojonegoro, Rabu (04/07/2012).
Pertemuan yang dihelat di ruang Batik Madrim Pemkab Bojonegoro tersebut dihadiri seluruh Tim Optimalisasi, perwakilan warga Mlaten, Lurah Campurejo, Camat Kota, Direktur Utama PT BBS, dan Filed Admint Superintendant JOB PPEJ, Hananto Aji. Pertemuan yang berlangsung panas itu dipimpin Ketua Tim Optimalisasi sekaligus Sekretaris Kabupaten (Sekab) Bojonegoro, Soehadi Mulyono.
“Kemarin, kami mendapatkan laporan bahwa warga Mlaten mengirimkan SMS (Short Message Messanger) kepada Bupati dengan adanya permasalahan yang terjadi saat ini. Maka dari itu kami memfasilitasi agar menemukan jalan ke luar sehingga tidak berlarut larut,†kata Soehadi saat membuka pertemuan.
Kepala Dusun Mlaten, Puji Lestari, menyampaikan, sebelum adanya aksi pemblokiran jalan, warga telah melayangkan surat kepada JOB PPEJ agar memperhatikan hak–hak warga Mlaten. Sebab, Mlaten masuk Ring 1 pada pengeboran di Sumur Sukowati Pad B.
“Dulu JOB mengatakan akan musyawarah dahulu, tapi belum diberi jawaban atas surat kami kok Pad B sudah berjalan? Padahal setiap hari kendaraan proyek lewat jalan kami, juga suara bising yang harus kami dengar tiap hari,†kata perempuan berjilbab ini.
Dia jelaskan, selama kegiatan di Pad A sumur Sukowati untuk pembagian tenaga kerja dibagi rata antara 3 desa terdampak. Yakni, Desa Campurejo (60 persen), Sambiroto (20 persen) dan Desa Ngampel (20 persen). Akan tetapi yang terjadi pada sumur Pad B semua tenaga kerja hanya dari Ngampel, begitu juga dengan jumlah kompensasi dan CSR yang tidak sama.
“Disini JOB tidak adil, kenapa dulu di Pad A bisa rata, sekarang kami minta sedikit saja penempatan tenaga kerja tidak dikasih. Jangan harap bisa lewat wilayah kami kalau seperti itu,†katanya tenang.Â
Hal yang sama disampaikan oleh perwakilan Dusun Mlaten lainnya, Kumidi Harianto dan Taufik. Bahkan Kades Campurejo Budi utomo terlihat berang saat memberitahukan sikap JOB selama ini terhadap warganya.
“Kita ini sudah diam, mengalah oleh sikap JOB yang tidak mengajak kami rundingan jika ada kegiatan,tapi kali ini tidak bisa. Dan sekarang saatnya kami bicara, ini tanah kami, hak kami jangan pilih kasih, karena adanya kegiatan itu dampaknya juga kena warga,†katanya berapi api.
Menanggapi hal itu, Field Admint Superintendant JOB-PPEJ, Hananto Aji yang duduk bersebelahan dengan Soehadi Mulyono, terlihat tak tenang dalam menjawab tuntutan dan pertanyaan warga.
“Kami tidak bisa memberikan jawaban terkait itu, karena harus menghadirkan Desa Ngampel dan Desa Sambiroto. Tapi yang jelas kami takut kalau harus merubah jumlah tenaga kerja, karena Desa Ngampel juga meminta hak mereka,† jawab Hananto lirih.
Jawaban itu membuat warga meradang. Mereka menuntut untuk merevisi sistem kontrak yang berisi pengambilan tenaga kerja 100 persen dari Desa Ngampel. Kalau tidak direvisi, pemblokiran akan terus dilakukan.
“Saya sudah menduga anda takut, karena memang dari awal kegiatan pengeboran di Pad B JOB tidak mengajak kami berunding,†sergah Budi Utomo dengan nada tinggi.
Sedangkan Soehadi Mulyono menegaskan, agar JOB PPEJ bagaimanapun harus menyelesaikan permasalahan ini dengan warga, karena dari awal JOB PPEJ dianggap salah dengan memonopoli perekrutan tenaga kerja.
“Kalian yang salah, harus bertanggung jawab. Harusnya JOB jangan begitu, ini namanya monopoli. Wong sudah tau ada tempat lain yang terdampak kenapa hanya Ngampel saja yang diperhatikan. Saya minta secepatnya untuk memberikan jawaban, dua hari harus selesai dan saya tunggu kabar selanjutnya,†tegas Soehadi Mulyono. (tg)