SANG surya terlihat malas beranjak dari peraduan bersama jingganya. Perlahan beberapa tombak seluetnya muncul di langit Desa Kasiman, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban. Nyanyi burung dan hewan ternak pun bersautan, mengiringi mentari yang memulai menepis dingin perkampungan petani.
Suara bariton para lelaki mulai menghiasi pagi. Asap pun mulai mengepul dari tungku dapur rumah. Tak butuh waktu lama. Sepi kembali menyergab perkampungan penduduk tepian hutan jati, selepas para lelaki beranjak meninggalkan rumah.
Mereka berbondong-bondong berangkat ke ladang. Bukan ladang milik pribadi, namun hamparan persil milik Perhutani KPH Jatirogo yang berjarak tak sampai 5 Km dari sentra desa. Suasana harmoni warga desa pun perlahan raib. Sepi ditinggal lelaki meladang, hingga mentari melintas ubun-ubun baru kembali pulang.
Kini yang tersisa hanya kaum perempuan dan anak-anak yang didekap rasa sunyi. Sesekali terdengar teriakan kaum ibu di dapur, agar buah hatinya tidak menjauh dari jangkauan.
Hampir semua rumah penduduk pintunya tertutup rapat. Yang terbuka bagian belakang, karena perempuan memasak. Desa ring 1 pabrik semen PT Semen Gresik (Persero) Tbk itu, bagai kampung mati, ditinggal laki-laki mengais rejeki dari lahan persil Perhutani. Yang tinggal hanya perempuan tua dan anak-anak.
Seperti hari-hari sebelumnya, disaat pagi hari hanya ada satu warung di Kasiman yang buka. Sepanjang hari tetap buka karena memang hanya itu pekerjaan perempuan renta pemiliknya.
Adalah Mbok Gendok. Perempuan yang lahir 80 tahun silam itu, terlihat sedang membereskan dagangan di warung sederhana miliknya. Piring dan gelas mulai dibersihkan setelah ujung pagi sekira pukul 05.15 WIB, warungnya dipadati pembeli.
Warung ini merupakan satu-satunya yang menjadi gantungan kaum lelaki disana. Terlebih para istri mereka belum sempat membuatkan sarapan, sebelum berangkat meladang di pagi buta.
“Siang sedikit saja di Kasiman sudah tidak ada laki-laki yang tinggal. Sebentar lagi para para istri akan menyusul mengirim makan siang, setelah pekerjaan di rumah rampung,†ujar Mbok Gendok, dalam bahasa Jawa.
Sepi di Kasiman berbanding terbalik dengan kompleks pabrik semen PT SG di Desa Sumberarum, Kecamatan Kerek, Tuban. Ketika para petani mengusung kesunyian ke ladang, deru mesin pabrik mulai menggeliat dari kompleks industri di atas lahan 240 hektar itu.
Asap pabrik pun mengepul mengolah bahan baku dari total tambang seluas 1.250 hektar itu. Cerobong pabrik setinggi 25 meter pun mengembuskan asap, diiringi aktivitas bongkar muat hasil produksi.
“Tidak ada bedanya sekarang dengan dulu, dari dulu sampai sekarang  ya sepi. Cuma kalau dulu hawane  seger (udaranya sejuk),†tambah Mbok Gendok sembari tersenyum memamerkan beberapa gigi kuningnya yang masih tersisa.
Mati Setelah Gagal Menggapai Mimpi
Masuknya suatu industri di suatu daerah tentunya membawa pengharapan besar akan kesejahteraan masyarakat sekelilingnya. PT SG yang mulai masuk di Tuban pada awal 1990-an, membawa visi menjadi perusahaan persemenan terkemuka di Indonesia dan Asia Tenggara. Sehingga tentunya bukan lagi industry kecil yang ada, namun industry milik Negara (BUMN) dengan 51 persen sahamnya adalah aset negara.
Hal itu tentunya dirasakan warga masyarakat ring 1 termasuk Desa Kasiman. Warga Kasiman juga berharap bisa ikut mencecap kesejahteraan dari pabrik yang berpusat di desa tetangganya itu. Apalagi setelah tanahnya dibebaskan, lalu diikuti udara kotor yang mereka hirup.
Minimal harapan itu pernah ada, dengan adanya kucuran dana Corporate Social Responsibility (CSR) yang menjadi haknya sebagai warga desa ring 1 pabrik. Termasuk harapan kelak anak turun mereka bisa bekerja di pabrik milik negara tersebut. Baik itu di perusahaan induk PT SG atau sejumlah anak perusahaannya. Seperti PT Swabina Gatra, PT United Tracktor Semen Gresik (UTSG), PT Industri Kemasan Semen Gresik (IKSG), PT Swadaya Gatra maupun di Semen Gresik Foundation (SGF).
Harapan tentang indahnya hidup sebagai karyawan industri, pernah menjangkiti warga Desa Kasiman. Desa mungil yang terdiri dari tiga dusun dengan jumlah penduduk terdiri dari sekitar 300 kepala keluarga (KK) itu, rata-rata penduduknya berprofesi sebagai petani. Meski desa tersebut termasuk ring 1 dari PT SG. Namun, tak satupun warganya bekerja di pabrik itu.
“Desa Kasiman seolah hanya sekedar nama saja menurutku. Selama ini tidak ada satupun penduduk kami yang bisa bekerja disana,†ujar Suyitno (50), salah satu perangkat desa Kasiman saat ditemui SuaraBanyuurip.com di desanya.
Sulitnya birokrasi dan persyaratan yang dipakai PT SG membuat mereka limbung. Ganjalan tingkat pendidikan formal yang demikian rendah, menjadikan warga Kasiman pasrah pada nasib. Rata-rata warga yang saat ini berusia 40 tahun ke atas hanya lulus SD. Selebihnya hanya lulusan SMA, untuk para pemudanya dengan jumlah tak lebih dari 30 persen.
Beberapa orangtua mengaku, pernah berharap salah satu dari keturunannya bisa turut mengais rejeki dari industry semen itu. Meski hanya sebagai tukang sapu yang dikabarkan bisa mempunyai pendapatan hingga jutaan rupiah.
“Tapi mau gimana lagi, disana mau jadi tukang sapu saja harus jadi sarjana,†ujar seorang petani saat ditemui di ladangnya. “Tapi masa mau jadi tukang sapu saja harus jadi sarjana? Selain itu banyak dari mereka yang berasal dari luar daerah. Kenapa tidak penduduk sini saja?†sergah petani yang lainnya saat menyambung omongan temannya.
Sedangkan beberapa pemuda terlihat putus asa dan lebih senang mencari pekerjaan lain. Baik dengan cara menjadi kuli bangunan ataupun menjadi perantau yang merantau hingga ke luar Jawa bahkan ke negeri tetangga seperti malaysia, Thailand, Singapura dan Hongkong.
“Kalau mengharapkan pekerjaan di Tuban sulit, apalagi kalau mau kerja di pabrik Semen Gresik juga sulit. Padahal warga desa lain bisa dnegan mudah masuk kerja di pabrik,†kata sejumlah pemuda Kasiman saat ditemui di jalan desa setempat. “Makanya banyak anak muda disini nekat berangkat cari kerja di luar negeri,†timpal lainnya.
Beberapa pemuda pernah memperoleh berbagai pelatihan dari PT SG. Namun setelah pelatihan itu usai tak lagi ada tindak lanjut, para petugas PT SG berjanji akan ada tindaklanjut dari pelatihan.
“Keponakan saya pernah ke Surabaya untuk ikut pelatihan selama beberapa bulan. Namun hingga saat ini tidak ada tindak lanjutnya lagi, jadi hasil pelatihannya itu nganggur,†ungkapnya.
Padahal pada tahun 2012, PT SG melakukan rekrutmen karyawan. Harusnya warga desa ring 1, tentunya termasuk Desa Kasiman, mendapat prioritas. Data riil dari PT SG menyebut, rekrutmen karyawan itu diikuti 41.076 orang pendaftar, untuk berebut 88 formasi karyawan. Dari jumlah itu sebanyak 570 orang berasal dari dari Tuban.
PT SG mengambil kebijakan dengan memberi jatah untuk Kabupaten Tuban sebanyak sembilan orang. Sehingga ada rasio 1 : 63 dari bagi Tuban dalam rekrutmen tersebut. Di samping ratio penerimaan total sebanyak 1 : 467 dari jumlah keseluruhan.
“Perekrutan karyawan dilakukan secara professional. Pekerja lokal mendapatkan perhatian yang lebih besar,†ujar Wedo Wiroaji, dari Departement Sumber Daya Manusia PT SG, saat ada pertemuan dengan beberapa media di Bali tanggal 13 Juli 2012 lalu.
Namun tidak tersebutkan secara terperinci apakah beberapa orang yang direkrut itu adalah karyawan yang berasal dari ring 1 ataupun tidak. Karena bagaimanapun merekalah yang perlu dijadikan prioritas utama dalam mendapatkan kesejahteraan.
Apabila memang SDM yang disana tidak mampu hingga tersisih dalam bursa kerja PT SG, mereka masih bisa berharap pada program sosial lainnya. Tentunya harapan ada program yang tepat sasaran untuk masyarakat yang bisa dinikmati secara berkelanjutan. Sehingga tidak ada lagi istilah ketergantungan ekonomi, pada pabrik yang bisa-bisa menjadikan garis kemiskinan selalu mengintai kehidupan mereka.
Kendati demikian, apabila PT SG masih tidak menelurkan program dengan cara yang lebih baik, akan menjadi pemicu keretakan harmoni hubungan yang seharusnya dibina oleh perusahaan dengan masyarakat sekitar. Lebih dari itu jika program CSR dianggap sebagai bagi-bagi kue, sama halnya membuang uang perusahaan percuma.
ISO 26000 SR : 2010 adalah penghargaan sebagai standarisasi dan dibuat pertama kali dan diluncurkan pada 1 November 2010, setelah ditujui 93 persen negara anggotanya yang salah satunya adalah Indonesia. Sedang tujuannya adalah untuk perlindungan konsumen, kemudian membesar menjadi perlindungan untuk seluruh pemangku kepentingan dengan 7 subjek (kumpulan) isu inti.
Tujuh subjek inti ISO 26000 yaitu mengenai tata kelola lingkungan, praktek operasi yang adil, ketenagakerjaan, hak asasi manusia, pengelolaan lingkungan, pembangunan social dan ekonomi masyarakat, dan terakhir adalah konsumen.
Dalam data tertulis yang pernah diberikan PT SG kepada sejumlah wartawan disebutkan, Â untuk pembangunan sosial ekonomi masyarat (Pemberdayaan) dilakukan dengan berbagai cara. Baik itu dengan melakukan beberapa pelatihan dilintas sektor seperti menjahit, pembuatan pakan ternak, batik dan beberapa pelatihan lainnya.
Di samping itu, ada juga beberapa bidang yang merujuk pada pendidikan dan kesehatan yang diperuntukkan untuk masyarakat. Termasuk di dalamnya adalah memberikan pembinaan kepada usaha kecil dan menengah dengan cara pemberian kredit yang lunak.
Namun sayangnya, hingga saat ini pihak PT SG belum bisa dikonfirmasi tentang apa saja program-program yang sudah diterapkan di Desa Kasiman. Humas perusahaan yang dianggap sebagai garda terdepan komunikasi dengan publik, tak merespon konfirmasi yang dikirim.Â
Beberapa warga yang ditemui di Desa Kasiman mengaku, tidak pernah berpikir untuk melakukan upaya alih profesi. Karena, memang tidak ada lagi kemampuan lain yang mereka punya. Selain bertani yang merupakan warisan temurun moyang penduduk.
“Dari dulu bisanya bertani ya bertani, Mas,†ujar Mbok Gendok bercerita.
Menurut pengakuan mereka beberapa kali PT SG menggulirkan program-programnya di Desa Kasiman. Pernah beberapa kali dengan mengadakan pengobatan gratis, pelatihan pembuatan pupuk dan beberapa pelatihan yang diperuntukkan untuk pemuda desa.
Lagi –lagi sebuah pilihan getir bagi warga sana. Disaat beberapa program tawaran PT SG yang terlihat menarik di depan mereka. Namun apa daya ketika skill dan ketrampilan mereka tak lagi mendukung untuk turut mengelola.
Tidak seperti desa lain yang selain bertani ada juga yang menjadi pengrajin, pedagang dan pekerjaan lainnya. Namun di Desa Kasiman hanyalah pertanian yang bisa dipilih untuk saat ini.
“Tidak ada pilihan lain selain bertani. Contohnya sederhana Mas, dalam satu desa hanya ada sedikit toko, warung kopi pun hanya ada tiga. Kalau dulu hanya satu,†ujar Suyitno.
Pelaksanaan program disertai dengan pendampingan berkelanjutan dan penataan mental masyarakat mungkin adalah hal wajib yang masyarakat terima. Sungguh ironis saat kita mendengar banyak masyarakat yang datang dalam suatu pelatihan dari PT SG, hanyalah mengharapkan imbalan yang sifatnya praktis.
“Kalau saya ikut pelatihan ya asal mendapatkan uang saku saja, Pak,†aku seorang warga saat mengikuti pelatihan manajemen yang diadakan PT SG, di Hotel Willis beberapa waktu lalu.
Selanjutnya, warga Kasiman sejak dulu diajarkan oleh nenek moyang mereka untuk mensyukuri nikmat Tuhan dengan bertani. Tak lagi mereka berharap dengan pabrik semen terbesar di nusantara itu. Karena bagi mereka bertani dengan serius adalah hal yang bisa andalkan mereka saat ini. Meski dengan berjalan berkilo-kilo meter untuk mencapai lahan penghidupan mereka.
Seolah asyik dengan tradisi bertani. Saat beberapa desa melakukan berbagai aksi demonstrasi dengan beragam tuntutan. Warga Kasiman tetap tenang dengan cangkul yang mereka ayunkan di lahan penghidupan mereka yang kebanyakan jauh dari desa.
Layaknya seekor merpati. Desa Kasiman yang terbang dengan pendapatan ekonomi yang dibilang cukup dari beberapa desa tetangganya. Kini merasakan uforia yang besar dengan beberapa lahan yang telah dibebaskan PT SG untuk penunjang proyek pabrik semen Tuban 4 yang ditargetkan mampu memproduksi 2.500.000 ton semen per tahun.
“Sudah ada sekitar 42 hektar tanah warga Kasiman yang dibeli oleh semen, dengan harga kira-kira 20 sampai 25 ribu rupiyah per meter,†terang Suyitno.
Lahan yang dibebaskan adalah lahan subur yang berjarak tidak lebih dari 1 km dari pemukiman warga. Seolah sebuah rejeki yang datang dengan tiba-tiba. Beberapa penduduk pasca membebaskan tanah melakukan uforia dengan cara masing-masing. Ada yang langsung menunaikan ibadah haji dan membeli kendaraan yang bisa dikategorikan mewah.
Seolah tak sadar. Saat tanah terdekat penduduk sudah mulai terjual. Praktis hanya tanah-tanah mereka yang jauhnya mencapai beberapa kilo meter itu yang menjadi tumpuan harapan mereka. Apabila pembebasan lahan ini diteruskan. Bukan tak mungkin mereka akan kehilangan penghidupan mereka. Karena Kasiman adalah Kasiman yang bangga dengan pertaniannya meski tadah hujan.
Namun apabila itu adalah pilihan sulit. Tentunya PT Semen Gresik harus mulai memikirkan tentang bagaimana kehidupan warga disana paska pembebasan. Jangan lah ketenangan yang mereka pupuk sirna dan terpotong oleh generasi selanjutnya. (edy purnomo)