SuaraBanyuurip.com – Edy Purnomo
Tuban – Untuk mengenang kejayaan pelabuhan besar Tuban di masa silam, kelompok Pecinta Alam (PA) dari Kabupaten Tuban, Bojonegoro dan Kabupaten Lamongan menggelar upacara bendera tepat di bibir pantai Boom Tuban lokasi pelabuhan tempo dulu tersebut, Jumat (17/8/2012).
Meski kondisi laut yang dalam disertai dengan hantaman ombak di sekeliling yang semakin membesar, namun tak mengurangi keseriusan peserta upacara. Terlebih helat tersebut dalam rangka memperingati hari ulang tahun (HUT) ke-67 kemerdekaan RI.
Sedianya pengibaran sang saka merah putih akan dilaksanakan di tengah laut dengan menggunakan pelampung oleh seluruh peserta, tapi karena saat gladi bersih tiba-tiba ombak yang datang semakin besar. Membuat panitia mengurungkan niatnya dan menghalau peserta untuk berenang di pinggir pembatas pantai.
“Sepertinya ita kesulitan mengibarkan bendera di tengah laut, jadi kita alihkan di bibir pelabuhan,†teriak panitia menghalau peserta untuk berenang ke pinggir. Upacara akhirnya dilanjutkan di pinggir pembatas pantai, dengan petugas pengibar bendera menaiki perahu karet untuk bisa mengantar bendera di depan peserta.
Ditanya tentang tujuan mengadakan upacara bendera yang tergolong unik ini, aktivis pecinta alam Edy Toyibi menyatakan, ini sebagai upaya mengenang kembali pantai Boom yang saat itu berperan besar dalam perebutan kemerdekaan di Indonesia.
“Pelabuhan ini pernah menjadi tonggak perjuangan,†ujar aktivis senior tersebut.
Selain itu harapannya, upacara yang dilakukan di antara karang dan deburan ombak laut pantai utara itu, mampu menanamkan kembali rasa nasionalisme. Diantaranya, dengan cara  memelihara kekayaan alam yang terkandung di dalamnya.
“Rasa nasionalisme harus tetap terjaga,†tegasnya.
Hal serupa diungkapkan inspektur upacara Sudartomo. Akademisi dari Universitas Sunan Bonang–Tuban  tersebut berharap, upacara yang dilakukan di tengah bahaya dan kesulitan  yang ditempuh itu mampu membangkitkan rasa cinta kepada NKRI yang saat ini mulai memudar.
“Dan ini murni ide dari mereka,†ungkat Sudartomo, di depan sejumlah wartawan. (edp/tbu)