SuaraBanyuurip.com -Â Ririn W
Bojonegoro – Selama ini program penempatan tenaga kerja ke luar negeri merupakan salah satu upaya mengurangi pengangguran. Meskipun pengiriman Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri telah memberikan devisa negara, namun disisi lain menimbulkan dampak yang merendahkan harkat dan martabat bangsa dengan banyaknya musibah.
“Banyak TKI yang mengalami tindak kekerasan atau penyiksaan, pelecehan seksual, perkosaan, bahkan gaji yang tidak dibayar,” jelas Ketua Umum Forkom TKI, Ahmad Zaeni,  saat memberi sambutan pada Deklarasi yang bertempat di Gedung Islamic Center Bojonegoro, Sabtu (25/08/2012).
Dia jelaskan, Pemkab akan melakukan pendataan sehingga bisa memberikan pendampingan kepada para calon TKI secara maksimal. Diantaranya, memberi pelatihan dasar ketrampilan, bahasa, keterampilan kerja, keterampilan wirausaha, dan keterampilan teknologi tepat guna.
“Adanya pelatihan tersebut agar para TKI terhindar dari perlakuan buruk tanpa bisa melakukan pembelaan diri,” tukasnya.
Nantinya semua TKI dari Bojonegoro akan masuk di dalam database Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Sosial melalui Forum Komunitas TKI. Lembaga ini sebagai media partisipasi dan kepedulian untuk memberikan sumbangsih, berupa pemikiran terhadap perlindungan, dan kesejahteraan tenaga kerja Indonesia.
“Selain itu untuk mengembangkan dan mendayagunakan potensi yang dimilikinya. Sehingga terbentuk cipta dan karsa dalam semangat kebersamaan yang diabdikan untuk kesejahteraan,” pungkasnya.
Dari visi misi dideklarasikan Forkom TKI ini, diantaranya, memperkokoh kelembagaan agar menjadi lembaga yang kuat dan mandiri dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Meningkatkan kesejahteraan TKI dan keluarganya, melalui kegiatan usaha bersama atau koperasi. Bahkan, memberikan advokasi dan pendampingan kepada masyarakat yang membutuhkan dan bagi TKI yang bermasalah.
Hal ini disambut antusias oleh ratusan TKI dari Kabupaten Bojonegoro yang berharap dengan terbentuknya Forkom TKI. Mereka berharap forum itu mampu mengayomi dan menghindarkan mereka dari dampak negatif saat bekerja di luar negeri.
“Saya ada 4 tahun bekerja di Jeddah, Arab Saudi sebagai pembantu rumah tangga. Meskipun perlakuan dari tuan rumah baik namun saya rasa berat, gaji hanya Rp 1.200.000 dan tidur cuma dua jam saja,” ungkap ibu satu anak mengungkapkan pengalamannya.
Dia berharap, dengan mengikuti forkom TKI ini bisa mendapatkan pembinaan sehingga terhindar dari kebodohan dan bisa menempatkan diri saat bekerja.
Sementara itu,Kepala Dinas Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Sosial Bojonegoro, Iskandar, Â menegaskan, melalui Forkom TKI ini para calon tenaga kerja terhindar dari Calo yang bisa menjerumuskan dan berdampak negatif lainnya.
“Jangan sampai, masyaralat menjadi korban dengan melalui calo saat mendaftarkan diri. Mulai sekarang kita perbaiki semua kekurangan dan berharap lebih baik lagi dalam melayani masyarakat,” imbuhnya. (rien/tbu)