SuaraBanyuurip.com – Edy Purnomo
Tuban – Tradisi menyertakan ketupat memang tidak pernah lepas dari moment lebaran. Akan tetapi saat ini masyarakat mulai jarang untuk membuat ketupat dengan tangannya sendiri.
Beberapa tahun silam, proses pembuatan hingga memasak ketupat satu minggu setelah lebaran selalu dilakukan masyarakat. Mereka bergerombol bersama tetangga untuk membikin ketupat.
Biasanya mulai malam hari mereka biasanya akan berkumpul di salah satu rumah warga. Â Bersama-sama membuat ketupat mulai dari proses pemilihan bahan hingga sampai pada tahap memasak.
“Kalau dulu, sejak malam semua sudah berkumpul membuat ketupat,†kata Karsiban (60), warga Desa Tegalbang, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban, Sabtu (25/8/2012).
Pria empat cucu ini mengungkapkan, dulu semua orang membuat ketupat selain dengan tangan mereka sendiri, juga akan mengajari anak-anak kecil yang ada di desa. Mereka  mulai menanamkan cerita mitos kepada anak-anak dengan maksud agar sang anak tersebut serius dalam belajar membuat ketupat.
Salah satu contoh mitos yang berkembang saat itu adalah apabila seseorang tidak bisa membuat ketupat, kelak akan disuruh untuk menusuk daun pohon asam yang kecil dengan alu yang besar. Alu adalah alat penumbuk padi yang terbuat dari kayu bulat sebesar hampir dua kali genggaman orang dewasa.
“Saya dulu dikasih cerita begitu, ya saya takut langsung belajar bikin ketupat,†kenang Karsiban.
Dia tambahkan, tradisi seperti itu untuk saat ini jarang ditemui. Warga sekarang lebih suka untuk membeli ketupat tanpa mau repot lagi untuk membuatnya. Terlebih di kalangan keluarga muda yang kebanyakan merasa tidak mau membuang waktu untuk hal remeh seperti ini.
“Kan kalau beli langsung enak Mas, tidak bingung bikinnya,†ungkap Khusnul (28), ibu satu anak ini, secara terpisah.
Khusnul menyatakan, kesibukan dia sebagai karyawan di pabrik rokok dan suaminya yang juga bekerja menjadi alasan utama. Selain karena faktor lelah juga tidak sempat untuk membuat dan memasak ketupat sendiri.
“Jadi ya masaknya kadang nunut orang,†tambahnya seraya tersenyum.
Meski begitu, kondisi ini dimanfaatkan oleh beberapa orang untuk menjual jasa membuat ketupat. Dengan hanya bermodalkan beberapa helai daun lontar dan ketrampilan membuat ketupat mereka bisa menjualnya dengan kisaran harga Rp 5-10 ribu untuk mendapatkan satu ikat yang berisi sekitar 25 kulit ketupat.
Seorang pedagang yang di temui di Pasar Besar Tuban mengaku, untuk dua hari ini bisa menjual ketupat hingga 10 ikat lebih. Selain itu dia akui pula, kalau ketupat yang dia jual adalah titipan dari salah satu tetangganya.
“Lumayan selain dagang sayur,†ujar Supik (30), pedagang yang di temui disana. (edp/tbu)
Â