SuaraBanyuurip.com -Â Ririn W
Bojonegoro- Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Sosial (Disnakertansos) Kabupaten Bojonegoro mencatat jumlah tenaga kerja lokal yang terlibat dalam kegiatan industri minyak dan gas bumi di lapangan Banyu Urip, Blok Cepu di Bojonegoro sangat minim.
Kondisi itu dianggap tidak sesuai dengan aturan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 23 Tahun 2011 tentang Konten Lokal yang mengharuskan pelibatan tenaga kerja lokal dalam proyek migas di Bojonegoro.
Data yang ada, tenaga kerja lokal yang direkrut dalam kegiatan industri migas Blok Cepu hanya sekitar 189 orang. Tenaga kerja lokal dari Bojonegoro sebanyak 135 orang dan selebihnya sebanyak 54 orang dari luar Bojonegoro.
“Tenaga kerja lokal dari Bojonegoro yang terserap dalam kegiatan proyek migas di Bojonegoro masih minim,” kata Kepala Disnakertransos Pemkab Bojonegoro, Iskandar, Kamis (30/08/2012)
Iskandar menambahkan, untuk tenaga kerja lokal yang dipekerjakan sebagai tenaga kasar dalam proyek fisik Banyu Urip memang lumayan banyak yakni sekitar 1.500 orang. Yakni bekerja sebagai sopir, kenek, dan satpam. Namun, kontrak para pekerja hanya pada masa proyek berlangsung yakni sekitar tiga tahun.
Disnakertransos mencatat ada sekitar 1.826 tenaga kerja lokal yang siap bekerja dalam industri migas di Bojonegoro. Namun, mereka terkendala dengan persyaratan sertifikat keahlian. Sebab, persyaratan yang harus dipenuhi harus mempunyai sertifikat keahlian.
“Kami sudah mengirim surat permintaan tenaga kerja sebanyak tiga kali, tapi belum ada tanggapan. Padahal, tidak semua tenaga kerja lokal yang mempunyai keahlian itu bersertifikat,” ujarnya.
Sementara di sisi lain, pihak operator Blok Cepu yakni PT Mobil Cepu Limited (MCL) tidak menyampaikan kebutuhan tenaga kerja yang diperlukan dan persyaratan spesifik yang dibutuhkan. Namun, menanggapi hal itu, Deputy Development Manager PT Mobil Cepu Limited (MCL), Elviera Putri, mengayakan, berkomitmen memberdayakan tenaga kerja lokal dalam kegiatan industri migas di Bojonegoro.
“Saat ini ada ratusan tenaga kerja lokal yang mengikuti training di luar negeri. Kita berharap mereka nantinya akan mempunyai keterampilan dan keahlian yang memadai untuk terlibat dalam proyek migas,” ujarnya. (rin/suko)