SuaraBanyuurip.com – Ririn W
Bojonegoro – Meski harga tembakau tahun 2012 ini mengalami penurunan, namun sejumlah petani di Desa Nganti, Kecamatan Ngraho, mengaku masih untung dari hasil penjualan penennya.  Bahkan mereka mengantri untuk menjual tembakau kering kepada pabrikan.
Kepala Desa Nganti,Kecamatan Ngraho, Mariadi menyatakan tahun ini petani tembakau diwilayahnya bisa bernafas lega karena harga yang diberikan terhitung stabil meskipun kualitas masing-masing tembakau berbeda.
“Paling rendah harga tembakau kering dihargai Rp 21.000/Kg sedang paling mahal Rp 36.000/Kg. Ini disesuaikan kualitas tembakaunya,” jelas pria berkumis ini disela-sela panen tembakau, Rabu (12/9/2012).
Dikatakan, kualitas tembakau ditentukan dari perlakuan semenjak petikan daun pertama, merajang, menjemur dan pengemasan. Â Jika dilakukan dengan bagus maka kualitas tembakau akan mengikuti. Begitu juga sebaliknya bila asal-asalan pasti hasilnya tidak maksimal.
“Tembakau ini memang perlu perlakuan khusus,”tukasnya.
Sementara itu, Lego (45), salah satu petani desa setempat mengungkapkan, pada tahun 20122 lalu dia mampu meraup untung sekitar Rp 3-4 juta sekali jual sebanyak kurang lebih 1 kuintal tembakau kering. Sedangkan untuk tahun ini dirinya mendapatkan keuntungan yang sama hanya selisih Rp 100.000 karena asupan air kurang dan tidak ada cadangan air untuk menyirami tanaman.
“Meskipun biaya produksi hampir separuh dari penjualan saya sangat senang karena kualitas tembakau saat ini bagus. Alhamdulillah tidak beda dengan tahun lalu,” kata dengan wajah berbingar-bingar memancarkan kebahagian.
Namun, keberuntungan yang dialami Lego ini berbeda dengan ratusan petani lainnya di Bojonegoro. Toyo(62) petani lainnya mengaku merasa rugi karena sebagian besar tembakaunya tidak bisa tumbuh subur seperti tanaman yang lain. Sehingga dari seperempat hektar lahan miliknya yang ditanami bibit tembakau sebanyak 7700 hanya 3000 bibit yang dapat dipetik hasilnya.
“Kalau 7700 bibit itu setara dengan 2,5 Kuintal tembakau kering. Sedang saya hanya menghasilkan 1 kuintal saja. Ini tidak sesuai dengan biaya produksi seperti beli bibit, pupuk, upah buruh, makan dan sebagainya,” keluh pria separuh baya ini.
Ditambahkan, seharusnya masa panen bisa mencapai 6 kali petikan. Akan tetapi karena kekurangan air hanya bisa memanen pada petikan ke empat. Petik daun pertama 71 hari setelah masa tanam yakni bulan Juni lalu, selanjutnya jarak 9 hari petik daun kedua, jarak 12 hari petik daun ketiga, dan jarak 15 hari petik ke empat.
“Hancur mbak tanaman saya. Sisanya tidak bisa dipetik lagi karena ukurannya sangat kecil. Seharusnya masih ada 2 kali panen, yah mau bagaimana lagi,” ujarnya pasrah. (rin/suko)