SuaraBanyuurip.com – Totok Martono
Lamongan – Belum satu tahun dibangun, jalan poros yang menghubungkan desa-desa di kecamatan Pucuk, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, sudah banyak yang rusak. Kerusakan itu diduga karena konstruksi bangunan yang tidak sesuai dengan kondisi tanah diwilayah itu.
Jalan rabat beton yang rusak tersebut diantaranya terjadi di jalan poros desa Plososetro, Cungkup, Bogoharjo, Ngambek, Babat Kumpul dan Sungegeneng. Sebagian besar kerusakan terjadi dibadan jalan, aspalnya retak memanjang hingga berkilo-kilo meter. Selain itu  kondisi jalan juga bergelombang.
Akibat kerusakan jalan tersebut sering menimbulkan kecelakaan. Yang banyak menjadi korban adalah pengendara sepeda motor. Meski begitu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lamongan tetap tak segera memperbaikinya.
“Banyak pengendara yang terjatuh karena roda motornya terperosok didalam rengkahan jalan. Luka-lukanya juga serius,”kata Huda, (28), warga Desa Bogoharjo kepada SuaraBanyuurip, Kamis (22/11/2012).
Huda sangat menyesalkan bila perbaikan jalan yang baru dinikmati masyarakat tersebut akan membawa petaka bagi masyarakat. Sebab, jalan itu belum ada setahun diperbaiki.
 “Baru akhir-akhir ini saja Bupati ngopeni pembangunan jalan. Sebelumnya selama puluhan tahun jalan-jalan desa disini rusak parah. Kalau musim hujan jalannya seperti kubangan kerbau,† ujar pemuda lulusan UIN malang tersebut.
Dia menilai, cepat rusaknya jalan itu dikarenakan Pemkab Lamongan tidak menyesuaikan konstruksi jalan dengan kondisi tanah diwilayah tersebut saat melakukan survey.
“Kalau tanah gerak idealnya bukan dirabat beton tapi dipaving. Bisa dibangun rabat beton tapi harus dibangunkan tembok Penahan Tanah (TPT).  Dibangun jalan rabat beton kalau kondisi tanahnya gerak jelas menghambur-hamburkan uang saja,†papar Huda.
Ketika Camat Pucuk, Yuli Wahyuwono dikonfirmasi Suara Banyu Urip sedang sibuk. Namun Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Roziqin, memberikan jawaban ringan tanpa beban.  “ Ya jangan kaget memang begitu kondisi Lamongan,†sambung Rosikin.
Menurutnya, tanah di Lamongan merupakan tanah gerak. Sehingga musim kemarau empat bulan saja, bangunan jalan akan retak-retak.
“Jangankan jalan poros desa, jalan nasional saja selalu dikeduk, dibangun lagi berulang-ulang karena jalan selalu bergelombang akibat kondisi tanah gerak,†kata Rozikin memberikan gambaran.
Untuk mengganti bangunan jalan dari rabat beton ke paving, menurut Roziqin hasilnya akan sama saja. Idealnya, Â disepanjang tepi kiri kanan jalan dibuatkan Tembok Penahan Tanah (TPT). Namun hal itu terbentur dengan keterbatasan anggaran dari Pemkab.Â
“Saya baru mendengar dari sampean kalau disitu sering terjadi kecelakaan,†kelit Rozikin. ( tok/suko)