Candi Tempat Ritual Meminta Kesuburan

candi slumpang

TEMUAN bangunan candi di Desa Siser, Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur lebih mengarah pada tempat pemujaan untuk meminta kesuburan. Hal itu biasanya ditandai dengan adanya lingga yoni di sekitar tempat tersebut, atau ada kaitannya dengan prasasi yang telah ditemukan sebelumnya.

Serupa dengan situs purbakala lain di tanah air, dimana ditemukan artefak yang di dalamnya terdapat lingga yoni, selalu diikuti dengan suburnya lahan pertanian di sekitarnya. Hal ini cukup menguatkan karena Desa Siser, dan desa-desa sekitarnya merupakan area pertanian subur yang dekat dengan sungai Bengawan Solo.

Pemerhati budaya dari Cakra Budaya, dan Lembaga Studi Advokasi dan Pembaruan Sosial (LSAPS), Supriyo, dalam keterangannya kepada pers menilai, temuan bangunan candi di Siser merupakan bagian dari Situs Candi Slumpang. Temuan tersebut merupakan bukti peninggalan bersejarah di Lamongan.

Sesuai prasasti Canggu, di era Majapahit di daerah tersebut ada Naditira Pradesa. Maksudnya desa yang diberi otonomi dan bebas dari pajak. Warga dari desa potensial untuk pertanian ini memiliki hak dan kewajiban mengelola penyeberangan sungai. Bisa jadi karena berdekatan dengan Bengawan Solo, sehingga warga dari seberang akan naik perahu menuju candi untuk ritual pemujaan meminta kesuburan.

Secara geografis Desa Siser, berjarak sekitar 45 Km arah utara jantung kota Lamongan. Desa pelosok dengan kehidupan masyarakatnya yang bersahaja. Desa  ini hanya dikenal sebagai daerah langganan banjir karena wilayahnya yang berada di pinggiran Bengawan Solo.

Baca Juga :   Pedagang Singkong Rebus Sukses Hantarkan Sang Putri Jadi Sarjana Unigoro

Penemuan candi Slumpang, menjadikan nama desa ini dikenal luas. Pengunjung dari berbagai daerah di tanah air berbondong-bondong datang ke lokasi candi di tengah area persawahan tersebut. Untuk bisa melihat bentuk candi pengunjung harus berjalan melintasi pematang sawah yang kondisinya licin, dan becek di musim penghujan seperti sekarang ini. Kubangan lumpur juga banyak ditemui di sepanjang jalan menuju lokasi.

Tak usah membayangkan bangunan Candi Slumpang seperti Prambanan, atau Borobudur. Candi yang pertama ditemukan oleh, Warsian (47), warga Desa Siser ini, mulai digali pada 19 November 2012 ini berupa tumpukan batu kumbung, dan batu bata merah yang sepintas seperti pondasi rumah. Di atas tumpukan batu tersebut terdapat  bentuk bangunan yang menyerupai potongan gapura. Disisi lainnya terdapat bangunan berbentuk persegi panjang yang konon dahulu banyak digunakan sebagai tempat menaruh sesajen.

Semula Warsian pada kisaran tahun 2001 bermaksud menggali sawah untuk dijadikan tambak ikan. Namun, penggalian dengan alat berat begho tersebut dihentikan, karena membentur batu. Setelah digali disana-sini baru diketahui jika yang membentur begho adalah bangunan candi.  

Baca Juga :   Jerit Tangis Ditengah Mencari Berkah Sunan Bonang

Laporan yang dilakukannya ke Pemkab Lamongan, baru mendapatkan respon sembilan tahun berikutnya. Selanjutnya melalui proses panjang, baru dilakukan penggalian pada Keberadaan candi Slumpang dikebulan November 2012 lalu.

“Pada tahun 2010 baru ada penanganan serius dari Pemkab Lamongan, setelah itu baru bulan kemarin dilakukan penggalian,“ kata Warsian.

Saat ini penggalian candi baru memasuki kedalaman 2 meter, dengan panjang arah timur barat 16 meter. Setiap turun hujan deras, galian selalu penuh oleh genangan air sehingga tidak tampak dasarnya. “Entah kenapa penggalian tidak dilakukan sekaligus, “ kata Warsian.

Sekalipun temuan Candi Slumpang tak disertai bukti prasasti terkait keberadaannya, namun prasasti Canggu menjadi penguat keberadaannya. Apalagi prasasti ini menyebut, nama desa-desa yang hingga kini masih ada. Bahkan desa dalam prasasti itu termasuk tempat penyeberangan sungai (tambangan-Red). Diantara titik tambangan itu Widang (Tubab)-Babat (Lamongan), Kendal (Sekaran), Pasiwuran kini Siwuran (Maduran), Wareng kini Parengan (Maduran), Parijik kini Prijek (Laren)-Karanggeneng, Sambo (Karangbinangun), Blawi (Glagah).

Bisa jadi, dulu warga dari sisi selatan Bengawan Solo, menyeberangi sungai dengan naik perahu untuk menuju Candi Slumpang. Mereka melakukan ritual meminta kesuburan di candi tersebut.  (totok martono/bersambung)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *