SuaraBanyuurip.com – Totok Martono
Lamongan – Meski dikenal sebagai salah satu lumbung pangan Jawa Timur, namun potensi pertanian di Kabupaten Lamongan belum bisa menyejahterakan nasib petani. Ini bisa dibuktikan dengan tingkat pendapatan perkapita petani Lamongan yang masih Rp10,770 juta pertahun.
Kabag Humas dan Infokom Pemkab Lamongan, Moch Zamroni, kepada SuaraBanyuurip.com mengatakan, rendahnya produktifitas pertanian di Lamongan dikarenakan para petani belum menguasai cara bercocok tanam yang baik, dan benar sehingga belum bisa mendapatkan hasil maksimal. Padahal kondisi saat ini mayoritas warga Lamongan, sekitar 60 persen, adalah petani. Â
“Para petani hanya sekedar mendengar teori dari para penyuluh pertanian yang sulit diterima petani dengan berbagai alasan. Karena hanya mengenal teori, petani sulit menerapkan saat bercocok tanam,†kata juru bicara Pemkab Lamongan itu.
Agar petani lebih mumpuni dalam bercocok tanam, tahun 2013 mendatang Bupati Lamongan, Fadeli, berencana akan membangun demplot di setiap kecamatan. Sehingga petani tidak hanya sekedar mendapatkan teori lewat penyuluhan, namun juga bisa praktik sekaligus mengetahui contoh nyata cara bercocok tanam yang baik dan benar. Terobosan ini diharapkan mampu lebih mendongkrak produktifitas hasil pertanian.
“Bupati mengharapkan, pendapatan perkapita lamongan bisa menyamai pendapatan perkapita Jawa Timur yang mencapai Rp20 juta pertahun, “ cetus Zamroni.
Tahun ini produksi pertanian Lamongan hampir 1 juta ton gabah kering giling. Diharapkan dengan program demplot di 27 kecamatan di Lamongan tahun mendatang, produksi pertanian bisa lebih didongkrak lagi. (tok)