Dua desa yang sebelum terpisah oleh sungai kini saling tersambung. Warga Desa Bareng, dan Desa Tengger, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro ini gegap gempita menyambut selesainya pembangunan jembatan.
“KAMI senang setelah jembatan jadi,†ungkap sejumlah pemuda asal Dukuh Paren, Desa Tengger saat ditemui nongkrong di pintu masuk jembatan, Kamis (27/12/2012).
Jembatan yang dibangun dari dana Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan (PNPM-MP) ini, memang menjadi sarana infrastruktur yang vital. Sarana penghubung Desa Tengger, dan Desa Bareng ini memiliki panjang 15 meter dengan lebar tak lebih dari tiga meter. Jembatan yang menelan dana Rp342.613.900 ini memiliki tinggi sekitar 7,5 meter dengan empat tiyang yang dicor, sehingga memiliki kekuatan bagus.
Memang masih relatif sederhana dan belum diaspal, namun sudah sangat membantu membuka akses dua desa bersebelahan yang sejak berabad-abad terpisah. Sungai yang membelah kedua desa ini tak lagi menjadi kendala, setelah jembatan rampung dibangun selama tiga bulan sejak awal Agustus 2012.
“Dulu warga Dukuh Paren harus memutar kalau mau ke Desa Bareng, sekarang sudah tidak karena jembatannya sudah jadi,†kata Kepala Desa Tengger, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Sofwan.
Dukuh Paren yang dihuni 144 kepala keluarga (KK) dengan 419 jiwa, sangat membutuhkan jembatan ini. Apalagi selama ini mereka kesulitan jika akan menuju desa tetangganya karena terpisah oleh aliran sungai. Jembatan ini dari dusun tepian hutan ini, langsung menembus Gang Noda di Desa Bareng.
Bagi Sofwan, dibangunnya jembatan adalah kesepakatan dan kehendak warga. Semuanya merupakan hasil musyawarah, sehingga keputusannya merupakan keputusan warga juga. Oleh karena itu pula, warga pun tak segan-segan mengeluarkan dana pasrtisipasi hingga Â
Disepakatinya pembangunan Jembatan itu, kata Sofwan, banyak faktor yang dijadikan pertimbangan. Yakni, untuk memperlancar arus lalu-lintas juga mampu memperlancar perekonomian warga. Selain itu, juga membuka akses baru bagi warga untuk bisa berkomunikasi dengan warga Desa Bareng maupun desa tetangga lainnya yang awalnya terputus oleh sungai.
“Krepyak Jembatannya masih dari kayu belum cor, Mas. Karena pengaruh dana yang belum menyukupinya. Untuk mewujudkan Jembatan itu saja masih dibantu swadaya warga berupa uang sekitar Rp6.631.900. Itu belum tenaganya,” ungkap Sofwan.
Dia jelaskan, dalam pengerjaannya dibantu swadaya masyarakat, baik warga Tengger juga warga Bareng secara bergantian. Sehingga, dalam pelaksanaan berjalan lancar tanpa ada kendala. Untuk melengkapi kekurangannya, ke depan akan dilakukan pembangunan dengan dana sering desa.
“Saya yakin dengan adanya jembatan ini mampu membuka akses baru untuk meningkatkan kelancarkan roda pemerintahan Desa Tengger dan Bareng. Juga kesejahteraan warga diberbagai bidang,” tukas pria yang berpawakan sedang itu.
Perlu diketuhui, desa yang berada di pinggiran hutan yang juga terlintasi jalur pipa dari sumur minyak Banyuurip, Blok Cepu itu memiliki luas wilayah sekira 425,26 hektare. Terbagi dalam tiga dukuhan yaitu, dukuhan Tengger, Paren, dan Dukuh Kedung Bunder. Dengan memiliki jumlah penduduk kurang lebih 1.497 jiwa. Terdiri dari Laki-laki 750, perempuan 747, dan jumlah total Kepala Keluarga (KK) sebanyak 511 KK. (samian sasongko)