SuaraBanyuurip.com – Totok Martono
Lamongan – Wabah flu burung yang menyerang diberbagai daerah beberapa waktu lalu tidak membuat para peternak burung puyuh di Desa Datinawong, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, resah. Pemerintah desa setempat telah melakukan antisipasi dini dengan merangkul Dinas Peternakan dan Dinas Kesehatan Lamongan.
“Hingga sekarang masih belum ada satupun burung puyuh yang terjangkit flu burung. Pemerintahan desa telah melakukan antisipasi sejak dini,†kata Kepala Desa Datinawong, Mundhakir, Kepala Desa Datinawong, Kamis (27/12/2012).
Menurut Mundhakir, saat isu flu burung mulai merebak pihaknya segera meminta Dinas Kesehatan dan Dinas Peternakan Lamongan untuk memberikan penyuluhan kepada peternak sekaligus memberikan obat bagi peternakan burung puyuh.
Jenis obat yang diberikan, lanjut dia, adalah disinventan yang disemprotkan ke kandang burung puyuh 2-3 kali sehari. Selain itu, peternak puyuh juga telah diajarkan cara mendeteksi unggas yang terserang flu burung sekaligus cara penanggulangannya hingga tidak mewabah.
“Semua unsure kita libatkan untuk mensosialisasikan cara penanggulangannya agar flu burung tidak terjadi disinii. Karena kami trauma dengan serangan flu burung tahun 2006 lalu,†ucap Mundhakir menerangkan.
Desa Datinawong sebelum terjangkit virus H5n1 tahun 2006 silam merupakan sentra penghasil telur puyuh terbesar di Kabupaten Lamongan. Mayoritas warga membudidaya burung puyuh sebagai mata pencaharian pokok. Selain dijual di wilayah Lamongan, peternak burung puyuh juga mensuplay telur puyuh ke berbagai daerah di Jawa Timur. Namun setelah dilanda flu burung ekonomi warga menjadi terpuruk.
Pengalaman pahit itu tak membuat peternak kapok. Pada tahun 2011 lalu, sejumlah warga Datinawong kembali budidaya burung bantuan dari Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan transmigrasi (Dinsosnakertrans). Dinsosnakertransos memberikan bantuan 3500 ekor burung puyuh dewasa siap telur dengan pakan untuk peternak didesa tersebut. Sekarang ini perkembangan budidaya tersebut cukup bagus. (tok)