SuaraBanyuurip.com – Edy Purnomo
Tuban – Seniman dari Sanggar Nusantara Tuban, Jawa Timur menggelar aksi performance art dengan membaca puisi diatas bundaran Seleko Tuban, Senin (31/12/2012). Aksi unik itu sebagai bentuk refleksi dan instropeksi atas apa yang telah dilakukan selama 2012 ini.
Penampilan seniman Sanggar Nusantara itu menarik perhatian para pengguna jalan. Sebab dalam aksi ini menggunakan kostum unik dan nyeleneh. Yaitu mengecat seluruh tubuhnya menggunakan warna putih, serta dengan mengikat leher, tangan dan kaki menggunakan beberapa utas tali berwarna-warni.
“Nafas dua ribu dua belas segera terlepas, dan masihkah makna jadi kusir berfikir pada setiap langkah,†ujar seorang seniman membacakan bait puisi mengawali aksinya.
Puas berpuisi, kelompok seniman ini melanjutkan performance art dengan menyusuri jalan Basuki Rahmat. Sembari masih terlilit tali, dia tetap melantunkan beberapa penggalan puisi yang dia bawakan berulang-ulang. Puisi itu berisikan tentang pesan refleksi atas pergantian tahun malam ini.
Beberapa pengendara yang melihat aksi itu berhenti sejenak untuk sekedar melihat atau mengabadikan momen ini menggunakan kamera ponselnya.
 “Acara apa itu mas,?†ujar seorang perempuan kepada sejumlah wartawan yang meliput aksi ini.
Banyaknya warga dan pengendara yang berhenti untuk melihat aksi ini, sempat membuat jantung kota ini mengalami kepadatan. Alhasil, beberapa rekan dari seniman terpaksa turun kejalan untuk menjaga agar arus lalu lintas tidak macet.
Ditengah aksinya, Eko Rudi Sugiarto, seniman yang melakoni performance art ini mengatakan, aksi yang dilakoninya itu sebagai refleksi dan instropeksi atas apa yang telah dilakukan selama 2012. Sebab, menurut dia, masyarakat masih menjadi robot-robot dari pendidikan maupun robot-robot bagi industri.
“Sudah banyak pelajar korban pengajar, sudah banyak petani korban industri, sudah banyak rakyat korban pejabat,” sambung Rudi dalam puisi yang dia bawakan.(edp)