SuaraBanyuurip.com – Ririn W
Bojonegoro – Berputarnya roda industri migas di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur harusnya menjadi berkah bagi kontraktor lokal. Kenyataannya, masih banyak kontraktor lokal dari desa sekitar proyek belum diberdayakan secara penuh. Â
Saat ini proyek migas telah menjadi bagian perjalanan industri di Bojonegoro, Tuban dan Blora (Jawa Tengah). Sekalipun telah muncul Perda Bojonegoro Nomor 23 Tahun 2011 tentang konten lokal, namun beroperasinya migas di Blok Tuban, Blok Gundih, dan Blok Cepu belum menjamin keterlibatan kontraktor lokal.
Ketua Lembaga Komunikasi Masyarakat Sekitar Tambang dan Peduli Minyak Bojonegoro-Tuban (LKMSTPM-BT), Suparmo, menyatakan, jika selama ini keterlibatan kontraktor lokal di ring 1 di semua wilayah K3S (Kontraktor Kontrak Kerja Sama) yang beroperasi masih kurang.
“Selama ini lembaga yang menaungi sejumlah kontraktror lokal terbukti tidak mampu menyalurkan aspirasi, bahkan melibatkan secara langsung di dalam proyek migas. Bahkan sekarang lembaga tersebut malah ditutup,†tandasnya.
Melihat potensi yang sangat besar dalam industrialisasi migas di Kabupaten Bojonegoro ini, dirinya dengan tekad yang kuat mengajak semua kontraktor lokal bergabung di lembaga yang dibentuknya sejak tahun 2000 silam. Tujuannya untuk menyatukan visi dan misi agar dapat ikut terlibat dalam proyek negara ini.
“Tidak hanya kontraktor lokal di Bojonegoro saja, tapi di Kabupaten Tuban yang dilewati pipa milik operator Blok Cepu, Mobil Cepu Ltd (MCL), juga kita ajak agar keberadaan kita diakui, jangan menyia-nyiakan tenaga lokal yang sudah siap dan menggunakan tenaga luar saja,†tegasnya.
Dia jelaskan, jika selama ini semua operator migas yang beroperasi di Bojonegoro belum 100 persen merekrut tenaga lokal. Hanya segelintir saja dan itupun tidak melalui tender terbuka. Semuanya dirasa sangat sulit karena telah dikerjakan oleh kontraktor berskala nasional.
“Kita meskipun pekerjaan kecil sebenarnya bisa, tapi kenapa tetap menggunakan dari luar Bojonegoro?†ujar pria yang juga memiliki perusahaan jasa konstruksi ini.
Suparmo berharap, dengan dibentuknya lembaga ini nantinya dapat diakui secara nyata baik semua operator migas bahwa Bojonegoro memiliki putera daerah yang siap terlibat. Sekaligus  memberikan lapangan pekerjaan bagi masyarakat lokal. (rien)