SuaraBanyuurip.com – Ririn W
Bojonegoro– Gubernur Jawa Timur, Sukarwo didampingi Bupati Bojonegoro, Suyoto bersama jajaran Muspida mengunjungi beberapa wilayah terdampak banjir di Kabupaten Bojonegoro, Minggu (6/1/2013). Kunjungan itu dimulai dari wilayah barat kota yakni Kecamatan Baureno hingga Kecamatan Kanor. Dua kecamatan itu merupakan wilayah yang paling parah dilanda banjir.
Dalam kunjungan itu Pak De Karwo-sebutan akrab Gubenur Sukarwo, itu ingin mengetahui secara langsung penyebab terjadi banjir disejumlah kabupaten di Jawa Timur sehingga dapat dilakukan analisa untuk melakukan upaya penanggulangan maupun penanganan.
“Saya ingin tahu apakah banjir ini kiriman dari hulu, atau ada saluran yang tidak tepat, ataukah harus ada pembenahan pada saluran air nantinya,” kata Pak De Karwo disela-sela berkunjung di Dusun Grape, Desa Grape, Kecamatan Kanor.
Menurut dia, banjir yang terjadi di Kabupaten Bojonegoro kali ini tak sedahsyat tahun lalu. Meski begitu masih banyak yang terdampak dan menjadi korban banjir akibat luapan Sungai Bengawan Solo.
“Besok saya akan ke Istana Negara menemui Presiden untuk menanyakan kembali komitmennya dalam meminimalisir banjir Sungai Bengawan Solo,”ujarnya.
Pakde Karwo mengungkapkan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur akan segera merealisasikan pembangunan waduk se jawa timur pada 2014 mendatang dengan menyiapkan anggarkan sebesar Rp3,5 triliun agar banjir di beberapa Kabupaten termasuk Bojonegoro dapat teratasi.
“Saat ini yang terpenting Waduk Pejok, Waduk Plangwot, pembangunan pintu air dan Waduk Gongseng,” tukasnya.
Sementara itu, Bupati Bojonegoro, Suyoto menyampaikan, sebagai analisa perhitungan pada kejadian banjir kota saat ini diawal tahun 2013 mulai tanggal 3 -5 Januari 2013 dengan ketinggian air mencapai 14.70 dibawah permukaan laut (dpl). Semua pintu pengendali banjir ditutup, sehingga air dari kota tidak bisa mengalir ke sungai Bengawan Solo. Sedangkan diwaktu bersamaan terjadi hujan lebat dengan intensitas hujan sampai 113 mm.
Artinya, kata Suyoto, didalam wilayah kota dan sekitarnya telah mendapat curah hujan sebesar 0,113 x 25.710.000 m3 = 2.905.203 m3 atau setara 3 juta m3. Jumlah itu belum termasuk kiriman air dari Kecamatan terdekat seperti Kecamatan Dander dan Kecamatan Kapas pada hari itu.
“Daya tampung seluruh saluran drainase di wilayah kota seperti drainase di jalan protokol, Afvoer dan saluran drainase di jalan lokal belum mampu menampung semua air, hanya satu pertiganya saja,” sambung Suyoto memberikan penjelasan kepada Gubenur.
Faktor lain penyebab banjir, menurut Kang Yoto-panggilan akrab Bupati Suyoto, buangan sementara (bozem) diberapa tempat makin lama makin berkurang karena digunakan sebagai pemukiman maupun pengembangan kota. Sedangkan kemampuan pompa maksimal 3,5 m3/det = 12.600 m3/jam, sehingga kalau diambil asumsi air bengawan solo naik sedangkan pintu pengendali banjir di tutup maka butuh waktu untuk mengeluarkan air dari kota.
“Belum termasuk ada tambahan hujan hari berikutnya dari wilayah kecamatan lain. Ini sangat tidak ideal karena keterbatasan kemampuan pompa apalagi untuk tahun kedepan beban air bertambah dan daya tampung air semakin berkurang,”imbuhnya.
Kang Yoto meminta, agar sumbangan yang diberikan kepada masyarakat korban banjir untuk disimpan terlebih dahulu. Alasannya, saat ini belum begitu memerlukan. Sebab puncak curah hujan dengan intensitas tinggi masih akan terjadi pada bulan Pebruari 2013 nanti.
“Sumbangan disimpan dulu,untuk berjaga-jaga jika nanti ada luapan air dan banyak warga menjadi korban,”tukasnya.
Terpisah, Warno (40), Kaur Pemerintahan Dusun Grape, Desa Grape, Kecamatan Kanor, mengungkapkan, tanggul sepanjang 600 meter dengan tinggi 26 centimeter dan lebar 4 meter telah amblas dihantam air dari Bengawan Solo. Warga setempat telah bergotong royong meninggikan tanggul dengan mendatangkan alat berat.
“Sebenarya dari Pemkab sudah ada rencana pembangunan tanggul ditargetkan Desember kemarin selesai. Tapi tidak tau kok sampai sekarang belum juga dikerjakan,” ujar Warno. (rien)