Mereka Ingin Mengakhiri Hidup di Tanah Leluhur

truni

Banjir tampaknya tak bisa dilepaskan dari Desa Truni, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Desa di bantaran sungai Bengawan Solo ini, dipastikan hampir setiap musim hujan direndam air.

Truni memang sebuah dilema. Warga yang mayoritas bermatapencaharian petani di sana, tak mau berpisah dengan kampung halamannya. Untuk itu pula mereka menolak setiap kali akan direlokasi ke tempat yang jauh lebih aman dari bencana banjir. Baginya Truni adalah jimat dan tanah leluhur yang haram untuk ditinggalkan.

Desa ini tepat berada di tepian Bengawan Solo. Bahkan, desa yang di kelilingi sungai terpanjang di Jawa ini, berhimpitan dnegan wilayah Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Posisinya persis dalam jepitan sungai yang setiap musim penghujan mendatangkan banjir tersebut.

Seperti yang terjadi pada saa hujan deras terjadi pada hari Kamis (3/1/2013) lalu. Truni terkena luberan air Bengawan Solo. Aliran sungai makin membesar, karena di kawasan hulu, Kabupaten Bojonegoro, dan Kabupaten Ngawi juga terjadi hujan deras. Akibatnya sedikitnya 200 unit rumah warga Truni, terendam air hingga ketinggiaan lutut orang dewasa.

Lebih tragis lagi lagi padi dan jagung umur dua bulan juga terendam. Praktis warga Truni bakal gagal panen jika banjir tak segera surut di desanya.  

“Untuk tegalan (ladang) yang ditanami jagung  sekitar 85 hektar. Sedang sawah padi luasnya 70 hektar. Semuanya terendam banjir,“ kata Kepala Desa Truni, Martono, saat ditemui di rumahnya. “Kalau dikalkulasi, kerugian yang ditanggung warga karena tanaman terendam banjir ya ratusan juta rupiah, Mas,“ tambah Martono.

Baca Juga :   Panen Terakhir di Tengah Kemarau Panjang

Tidak ada tanaman yang tersisa di hampar sawah dan ladang. Sejauh mata memandang yang tampak hanya lautan air.  Jika Desa Truni bisa dilewati itu, dikarenakan jalan poros desa telah dibangun lebih tinggi pada tahun 2012 lalu.

“Tahun lalu jalan poros desa ditinggikan sepanjang 300 meter, sehingga tidak sampai tenggelam, “ ujar Sekretaris Desa Truni, Handoko.

Jalan-jalan lingkungan yang dipadati rumah, dan belum ditinggikan hampir keseluruhan terendam banjir. Walau rumahnya kemasukan air banjir, sebagian besar warga masih membiarkan barang-barangnya di dalam rumah.

Mereka telah mengungsikan ternak sapi, dan kambing ketempat yang lebih tinggi. Mereka masih menunggu perkembangan banjir. Jika beberapa hari hujan tidak lagi turun, maka banjir akan surut. Namun jika deras kembali turun dipastikan banjir lebih besar akan terjadi.

“Masyarakat tidak terlalu panik dengan banjir. Banjir sudah menjadi bagian hidup mereka, “ ujar Martono. Hanya Martono selalu menghimbau kepada warganya agar selalu waspada jika sewaktu-waktu banjir lebih besar datang.

“Nanti yang pertama harus diselamatkan adalah kaum manula, dan ibu-ibu hamil, “ jelas Martono.

Sebelumnya banjir setiap tahun selalu menerjang Truni. Banjir paling parah terjadi di tahun 2007 lalu. Saat itu bisa dibilang Truni telah tenggelam. Banjir kala itu menjadi fokus nasional. Bantuan dari pemerintah, swasta, hingga Partai Politik (Parpol) terus berdatangan.

Baca Juga :   Cerita Muntahir Juragan Parkir Asal Bojonegoro Naik Haji Bersama Istri

Namun saat pemerintah menawarkan kepada warga Truni agar mereka direlokasi, warga menentang habis-habisan.  “Mereka lebih memilih mati di tanah kelahiran dari pada dipindah ke tempat lain, “ jelas Martono.

Dari letak geografis, Desa Truni terkungkung dalam lingkaran sungai Bengawan Solo. Martono mengibaratkan, warga Truni bagaikan hidup di dalam mangkok. Jika sungai Bengawan Solo penuh, secara otomatis, luapan air langsung tertumpah di Desa Truni.

“Satu-satunya pemecahan  agar Truni tidak kebanjiran lagi, yaitu dibuatkan tanggul memutar desa. Tapi entah sampai kapan bisa diwujudkan, “ terang Martono.

Selain terkendala pendanaan yang sangat besar, yaitu mencapai ratusan milyar rupiah lokasi pembangunan juga melibatkan dua kabupaten (Lamongan- Tuban). Mengingat desa ini diapit dua kabupaten tersebut.

Martono mengaku sudah berulang kali mengajukan proposal ke Pemkab, namun hingga hampir purna tugas, tidak ada tanda-tanda harapannya tersebut dikabulkan.  “Dulu pas ada pejabat pusat datang meninjau  banjir besar tahun 2007 juga saya sampaikan, katanya akan segera ditindaklanjuti. Namun kenyataannya hingga sekarang tidak ada buktinya, “ keluh Martono.

Warga Truni hanya bisa diam dalam kepasrahan. Tetap bertahan di desa adalah harga mati karena besarnya kecintaan pada tanah kelahiran. (totok martono)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *