SuaraBanyuurip.com – Totok Martono
Lamongan -Waduk Gondang di Desa Gondang, Kecamatan Sugio, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur sudah tidak efektif lagi sebagai sumber irigasi pertanian karena tingginya endapan lumpur. Sekarang ini waduk tersebut hanya mampu menampung air sekira 26 juta meter kubik (M3)dari tampungan normal sebanyak 36 juta M3.
Akibat tingginya endapan lumpur itu Waduk Gondang kerap kali ‘mampet’, tak mampu mengalirkan air dengan lancar. Sebab sejak diresmikan mantan Presiden Soeharto Tahun 1987 lalu, sampai saat ini Waduk Gondang belum pernah dikeruk.
Diperkirakan endapan lumpur di waduk itu telah mencapai sekira 2,9 juta meter kubik. Akibatnya volume air yang semestinya tertampung mencapai 36 juta meter kubik menurun menjadi 26 juta meter kubik. Dari jumlah tampungan tersebut yang efektif  digunakan irigasi pertanian mencapai 23 juta meter kubik untuk sekira 6.767 hektar.
Namun, dalam kenyataannya, jumlah areal pertanian yang menggantungkan sumber air dari Waduk Gondang terus meningkat setiap tahunnya hingga mencapai seluas 10.651 hektar yang yang tersebar di 62 desa di tujuh kecamatan.
Waduk Gondang merupakan waduk terbesar di Kabupaten Lamongan, dengan panjang jaringan irigasi baik primer, sekunder maupun tersier mencapai 80.075 meter. Waduk Gondang selama ini hanya mengandalkan pasokan air dari air hujan. Sehingga saat musim kemarau, sisa airnya hanya bisa digunakan untuk air minum dan menjaga konstruksi bangunan waduk.
Karena menjadi tumpuan pertanian di 62 desa di tujuh kecamatan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lamongan akan melakukan pengerukan endapan sedimennya pada tahun 2013 ini. Pengerukan tersebut akan dilakukan Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWS) bersama pengerukan waduk lainnya, yakni Waduk Prijetan di kecamatan Karanggeneng, dan Waduk Joto di Kecamatan Lamongan.
 “Ya senang mas. Kalau bisa secepatnya. Karena selama ini suplai air dari waduk tidak mencukupi untuk mbanyuni (mengairi) sawah, “ ujar Sujak, salah seorang petani Lebakadi, Kecamatan Sugio. (tok)