Siapapun tak bisa membantah jika kematian adalah rahasia Illahi. Kusnadi pun meratapi kematian anaknya.
LELAKI itu tampak enggan menghentikan tangis. Selang infus begitu kuat menancap di lengannya. Batinnya meratap dipaksa menerima mendung yang bertamu di dadanya. Angin kencang, dan mendung tebal yang menyelimuti Dusun Sumberan, Desa Dagangan, Kecamatan Parengan, Kabupaten Tuban, Jawa Timur semalam, adalah firasat buruk keluarganya.
“Kenapa anak saya harus meninggal karena saya?†ujar Kusnadi (54). Kalimat itu berulang-ulang dia gumamkan tanpa bisa mengusap air mata yang meleleh dari sudut matanya. Ruang rawat inap RSNU Tuban bagai saksi kekalutan batinnya.
Kusnadi terus menangis, memutar kembali memori bersama anaknya, Mundir (19), yang belum panas pantatnya duduk bangku kampus universitas swasta di Tuban. Seolah masih tak rela karena nyawanya hari ini telah terselamatkan. Â Sebagai gantinya, nyawa sang anak yang menjadi gantungan masa depannya harus direnggut maut, ketika menyelamatkan dirinya dari sengatan listrik di depan rumahnya, Selasa (29/1/2013) pagi.
Dengan tubuh terbaring bersimbah airmata, petani desa tepian hutan jati yang telah meranggas itu menceritakan awal mula pagi kelabu yang dialaminya. Saat itu, usai melakukan aktifitasnya pada pagi hari, dia bermaksud membersihkan halaman rumah yang mulai banyak ditumbuhi rumput liar.
“Pagi tadi saya bermaksud membersihkan halaman rumah. Sedang anak saya bersiap berangkat kuliah,†kata Kusnadi mengawali kisah kelamnya kepada SuaraBanyuurip.com.
Tak disangka itulah akhir dari kebersamaan anak dan bapak ini. Ditengah membersihkan halaman rumah, Kusnadi melihat ada kabel listrik, dan tiang listrik yang tergeletak di tanah. Hujan disertai angin kencang yang menerjang kampungnya tadi malam menyebabkan beberpa pohon dan tiyang listrik tumbang.
Karena tidak semua rumah yang ada di dusun tersebut mempunyai aliran listrik, sehingga keluarganya harus mengambil listrik dengan menyalur dari tetangganya. Di perkampungan ini banyak warga yang berlangganan listrik dari PLN menyalurkan ke tetangganya.
“Banyak rumah disana yang mengambil listrik dengan menyalur dari tetangga. Dengan diperpanjang menggunakan kabel, dan tiang bambu,†ujar Kusnadi.
Disaat bermaksud membenahi aliran listrik di rumahnya itulah, Kusnadi tak sadar bahwa kabel yang dia pungut terkelupas, dan masih dialiri listrik. Begitu dia sentuh secara cepat pula tersengat aliran listrik, dan mulai kehilangan kesadaran.
Di tengah bertarung dengan maut itulah, Mundir sang anak langsung mendekap, berusaha melepaskan sang bapak dari cengkraman tegangan listrik. Tapi naas karena tubuh manusia adalah indikator listrik yang kuat. Dua pria itupun langsung tersengat arus pendek listrik secara bersamaan.
“Kenapa anak saya kok sampai menolong saya, kenapa tidak saya saja yang meninggal?†kata Kusnadi terbata-bata.
Di mata ayahnya, Mundir adalah anak yang sangat berbakti kepada orangtua, dan cenderung penurut. Bahkan, dia rela banting tulang agar sang anak bisa kuliah hingga ke perguruan tinggi seperti saat ini. Meski dia sadari takdir berkata lain karena sang anak harus meregang nyawa, saat dalam perjalanan ke rumah sakit.
“Anak saya bercita-cita akan membahagiakan orangtua,†ujar Kusnadi mengakhiri ceritanya karena kondisinya masih lemah.
Semasa hidup, Mundir yang saat ini duduk di semester 1, Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas PGRI Ronggolawe (Unirow) Tuban, dikenal sebagai pribadi yang ramah. Salah seorang temannya mengakui, di samping sebagai sosok yang mudah bergaul, Mundir merupakan sahabat yang kerap melontarkan banyak lelucon untuk menghibur kawan-kawannya.
“Semasa hidup, Mundir adalah sosok yang humoris, dia mudah sekali bergaul,†kenang Latif (19), salah satu karib Mundir yang kuliah di kampus sama.
Dia ceritakan, hari ini seharusnya Mundir dan teman-teman satu angkatannya menjalani Ujian Akhir Semester (UAS) hingga beberapa hari ke depan. Tanpa disangka jumlah penghuni kelas mereka telah berkurang untuk menjalani masa pendidikan pada semester-semester berikutnya.
“Kami bersedih, Mas, kehilangan sosok yang sering menghibur kami,†tandas Latif. (edy purnomo)