SuaraBanyuurip.com – Ririn W
Bojonegoro – Warga Desa Campurejo, Kecamatan Kota, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur yang masuk wilayah ring 1 sumur minyak Sukowati, Blok Tuban menggeruduk kantor Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Pemkab Bojonegoro, PT Bojonegoro Bangun Sarana (BBS), Senin (11/02/2013).
Mereka menuntut kejelasan nasib mereka yang merasa belum dilibatkan secara langsung dalam proyek pembangunan pabrik gas flare di desanya. Apalagi, dalam sosialisasi pabrik gas tersebut PT BBS berjanji akan memprioritaskan warga lokal dalam perekrutan tenaga kerja, maupun kontraktor lokal untuk proyek tersebut.
Sekretaris Desa Campurejo, M Ikhsan, mengatakan, warga sudah gerah dengan sikap PT BBS yang terkesan membiarkan konflik internal di desa yang menginginkan keterlibatan warga lokal. Baik itu masalah tenaga kerja, maupun kontraktor lokal yang sudah berkali-kali disampaikan sejak awal sosialisasi pabrik gas flare tersebut.
“Di Campurejo ini ada sekitar 12Â kontraktor lokal, tapi kok ya tidak ada satupun yang dilibatkan,” jelas M Ikhsan kepada SuaraBanyuurip.com
Iksan menambahakan, jika tidak ada jawaban dari PT BBS maka warga terus berusaha mencari jawaban yang pasti karena selama ini mereka tidak mengetahui apa-apa dengan kegiatan Gas Flare. Mulai dari proses awal pengurukan tanah sampai saat ini memulai proyek.
“Tadi kami ke kantor PT BBS, tapi mereka tidak bisa menyelesaikan pada hari ini, dan sepakat akan melakukan pertemuan pada hari Rabu malam,” tandasnya.
Secara terpisah, Direktur PT BBS, Deddy Affidick, saat dikonfirmasi tidak memberikan banyak komentar terkait aksi warga ini. Namun demikian dia katakan, tidak mungkin suatu proyek kecil dapat mengakomodasi semua kepentingan.
“Untuk suatu pekerjaan yang relatif kecil kontraktor kami tentu hanya mampu menggandeng satu perusahaan. Bisa saja yang tidak dapat merasa tidak adil. Hal yang sama perlu diantisipasi untuk peluang kerja yang terbatas, sementara peminatnya banyak,” jawabnya melalui Blacberry Mesanger (BBM). (rien)