SuaraBanyuurip.com – Eky Nur Hady
Bojonegoro – Sejak sepekan terakhir stok darah di Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Bojonegoro, Jawa Timur sangat minim. Idealnya setiap kabupaten memiliki kebutuhan darah dengan jumlah minimal 2,5 persen, sementara PMI baru bisa memenuhi 0,5 persen dari angka minimal.
Sementara itu, kebutuhan darah di Bojonegoro setiap bulannya mencapai 1.000 hingga 1.500 kantong darah. Sedangkan rata-rata setiap bulan stok darah di PMI Bojonegoro hanya mencapai kurang lebih 250 sampai 400 kantong. Berarti jauh dari kata cukup.
Minimnya stok darah di Bumi Angling Dharma ini terjadi lantaran warga takut melakukan donor darah. Hal itu terjadi karena kurangnya sosialisasi kepada masyarakat, sehingga kebanyakan warga enggan mendonorkan darahnya dengan berbagai alasan.
Humas PMI Unit Donor Darah Bojonegoro, Â M Ali Safa’at, mengatakan, saat ini dirinya tengah berusaha mencukupi kekurangan stok darah di Bojonegoro dengan mendroping dari luar Bojonegoro.
“Tadi malam kita konfirmasi PMI Madiun, dan Surabaya, rencananya nanti sore datang,” ujarnya, Senin (11/2/2013).
Menurutnya, belakangan ini kesadaran masyarakat untuk mendonorkan darahnya sangat minim. Terbukti, setiap harinya di kantor PMI, di Jalan Trunojoyo hanya ada pendonor lima sampai tujuh orang saja.
“Kurangnya sosialisasi terhadap masyarakat tentang donor darah, sehingga warga banyak yang merasa takut untuk berdonor,” cetusnya. (had)