SuaraBanyuurip.com – Dwi Suko N.
Bojonegoro – Banjir akibat meluapnya Sungai Bengawan Solo di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur mulai surut. Ketinggian permukaan air di papan duga Tepi Bengawan Solo (TBS) Bojonegoro pada Minggu (17/2/2013) pukul 21.00 WIB mengalami penurunan 2 centi meter (cm) dari sebelumnya 15.37 di bawah permukaan laut (dpl) dan masih siaga III.
“Sekarang ketinggian permukaan air bengawan 15.35 dpl,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro, Kasiyanto kepadasuarabanyuurip.com, Minggu malam.
Meski demikian, luapan air sungai terpanjang di Pulau Jawa itu masih menggenangi 63 desa di 11 Kecamatan di Bojonegoro yang berada di daerah aliran suangai (DAS) Solo. Sawah terendam seluas 2.680 hektar dengan rincian tanam padi seluas 2.222 hektar dan palawijo 33,5 hektar.
Sementara untuk fasilitas umum yang terendam diantaranya 8 Gedung SD, 4 Gedung TK dan 3 buah masjid. Jalan poros yang terendam sepanjang 51.375 meter. Sedangkan untuk jalan pekerjaan umum (PU) 800 meter untuk wilayah Kecamatan Kota.
Kepala Bagian Humas dan Protokoler Pemkab Bojonegoro, Mahmudin mengatakan, walapaun banjir mulai surut, pemkab masih terus melakukan pemantauan diwilayah rawan banjir dengan berkoordinasi dengan beberapa kecamatan yang wilayahnya terendam air.
“Kita meminta masyarakat untuk tetap waspada. Karena air masih tinggi meskipun mulai surut,” sambung Mahmudin.
Dia menerangkan, sejumlah bantuan seperti tempat pengungsian, tenda-tenda, dapur umum atau bantuan makanan terus didistribusikan Pemkab Bojonegoro dengan sukarelawan.
“Kami himbau para korban banjir untuk terus mengevakuasi keluarga dan segera melaporkan kepada para relawan yang siaga di wilayahnya masing-masing,” pesan mantan Sekretaris Kecamatan (Sekcam)Dander ini.
Mahmudin menegaskan, korban meninggal yang terjadi siang tadi bukanlah merupakan akibat banjir Bengawan Solo.
“Itu terjadi karena kecelakaan dan kelalaian,” pungkasnya.