Candi Slumpang Kembali Digali

candi

SuaraBanyuurip.comTotok Martono

Lamongan – Penggalian Candi Slumpang di Desa Siser, Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur yang selama beberapa bulan terbengkelai akan kembali dilanjutkan.

“Penggalian candi Slumpang akan ditindaklanjuti tahun ini,“ kata Kasi Pemberitaan Humas dan Infokom, Pemkab Lamonga, Arif Bakhtiyar, Jumat (8/3/2013).

Sejak pertama kali  ditemukan hingga dilakukan penggalian awal pada November 2012 lalu, menurut Arif, belum mendapatkan wujud asli (keseluruhan) bangunan candi. Pada ekskavasi awal, baru berhasil membuka 13 kotak gali.

“Padahal bila digali keseluruhan, diperkirakan bangunan tersebut merupakan sebuah bangunan candi dengan kedalaman 1,5 meter dari permukaan tanah,“ kata Arif.

Bangunan candi setidaknya memiliki 2 ruangan atau halaman dari keseluruhan bangunan. Sedang panjang candi diperkirakan mencapai 15 meter.  Dengan penggalian lanjutan nanti diharapkan akan tampak bentuk asli candi yang dulunya menjadi tempat pemujaan itu sehingga mudah dilacak sejarahnya.

Sekedar diketahui, bangunan candi yang berlokasi di area persawahan tersebut pertama kali diketemukan oleh Warsian, perangkat desa Siser. Penggalian awal dilakukan pada 19 november 2012. Bentuk awal candi tersebut berupa tumpukan batu kumbung dan batu bata merah yang sepintas seperti pondasi rumah.

Baca Juga :   Dua Hari, Tak Ada Tambahan Kasus Baru Positif Corona di Bojonegoro

Di atas tumpukan batu tersebut terdapat bentuk bangunan berbentuk persegi panjang yang konon dahulu banyak digunakan sebagai tempat menaruh sesajen. Sekalipun temuan candi Slumpang tak disertai bukti prasasti terkait keberadaannya, namun prasasti Canggu menjadi penguat keberadaannya.

Apalagi prasasti ini menyebut, nama desa-desa yang hingga kini masih ada.  Bahkan desa dalam prasasti tersebut termasuk tempat penyeberangan sungai (tambangan-red) diantaranya titik tambangan Widang (Tuban),Babat (Lamongan), Kendal (Sekaran), Pasiwuran –kini Siwuran- (Maduran), Parijik kini Prijek (Laren)-Karanggeneng, Sambo (Karangbinangun), Blawi (Glagah).

Bisa jadi dulu warga dari sisi selatan Bengawan Solo, menyeberangi sungai dengan naik perahu untuk menuju candi Slumpang. Mereka melakukan ritual meminta kesuburan di candi tersebut. (tok)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *