SuaraBanyuurip.com – Edy Purnomo
Tuban – Selain menurunnya produksi di tingkat petani, banyaknya orang menggelar ritual hajatan (selamatan) menjadi pemantik melambungnya harga bumbu dapur, di pasar tradisional di wilayah Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Senin (11/3/2013).
“Banyak orang yang memborong bumbu karena mau ada hajatan, Mas. Makanya bumbu masak di dapur belakangan langka,” kata Suhartik (39), pedagang di Pasar Baru Tuban.
Pedagang segala bumbu masak dan pernik-pernik kebutuhan dapur asal Semanding, Tuban ini menjelaskan, harga bumbu yang paling melonjak adalah bawang putih, dan bawang merah.
Untuk bawang putih, seminggu terakhir mengalami kenaikan hingga Rp20 ribu per kilogram. Dengan harga awal Rp30 ribu, saat ini melambung hingga Rp50 ribu untuk satu kilogramnya. Sedang untuk bawang merah, harga saat ini diketahu mencapai angka Rp35 ribu, padahal sebelumnya bisa didapat dengan harga Rp25 ribu.
“Karena bahan-bahan itu banyak yang dicari. Sedang untuk bahan lain memang naik, tapi tidak terlalu tinggi,” ujarnya menambahi.
Ditambahkan, banyaknya permintaan pada barang tidak sesuai dengan jumlah barang yang ada. Karena, pedagang sendiri sulit untuk mendapatkan barang yang akan dijual, baik dari pengepul maupun petani itu sendiri.
Wage (50), petani bawang asal Desa Cendoro, Kecamatan Palang, Tuban mengaku, musim seperti saat ini tidak cocok untuk menanam bawang. Akibat intensitas hujan yang tinggi, menjadikan bawang tersebut busuk apabila dipaksa untuk menanam.
“Tidak ada yang menanam bawang saat hujan, kalau yang dijual dipasar mungkin hasil timbunan,” ujar Wage.
Saat ini, petani lebih suka menanam padi. Karena tanaman ini yang diketahui membutuhkan air melimpah. Kondisi ini, menjadikan bawang sulit sekali ditemukan dikalangan petani. (edp)