SuaraBanyuurip.com – Totok Martono
Lamongan -Terminal tipe C di Kecamatan Sukorame, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur kondisinya memprihatinkan. Disamping tak banyak lagi disinggahi mobil penumpang umum (MPU), terminal tersebut telah beralih fungsi menjadi tempat mangkal sepeda motor.
Padahal di tahun 2000 lalu, terminal yang berada di jantung kota kecamatan ini masih disinggahi puluhan MPU. Puluhan MPU itu melayani dua jurusan di terminal Sukorame yaitu Sukorame-Babat dan Sukorame – Kabuh (Jombang). Namun sekarang ini puluhan MPU yang melayani dua jurusan di terminal Sukorame. Yaitu Sukorame-Babat dan Sukorame – Kabuh, Kabupaten Jombang.
Dari pantauan suarabanyuurip, terminal Sukorame tampak lengang. Tidak ada satupun MPU yang transit ditempat itu. Justru beberapa sepeda motor terlihat padat diparkiran.Â
“Dibanding sepuluh tahun lalu, terminal sukorame sekarang kondisinya sepi sekali mas,†kata pemilik warung didalam terminal, Juariyah.
Sepinya MPU yang masuk terminal Sukorame, menurut Juariyah, karena semakin banyaknya orang yang memiliki sepeda motor sehingga lebih memilih naik motor ketimbang naik MPU yang kondisinya juga sudah tua dan tidak laik jalan.
Walau tidak didatangi MPU, terminal Sukorame masih cukup ramai oleh banyaknya pengunjung yang menikmati kopi dan makanan diwarung di dalam area terminal maupun disepanjang jalan raya. Apalagi saat malam hari puluhan orang memenuhi warung-warung tersebut.
Bahkan sekitar empat bulan lalu diterminal Sukorame sempat dijadikan tempat mangkal para wanita penghibur. Ada seorang pemilik warung yang mantan TKI dari Taiwan menyediakan wanita penghibur. Modus operasinya seperti warung kopi pangkon di pasar Agrobis Babat.
“Kalau di Babat disebut kopi pangkon disini dulu familiar dengan nama kopi ndeplok,†ujar seorang pengunjung warung kopi yang enggan ditulis namanya.  Â
Sumber itu menerangkan, nama kopi deplok itu diambil karena setelah minum kopi, pengunjung bisa bertransaksi dengan salahsatu penjaga warung kopi. Aktifitas seks yang dilakukan itulahdikonotasikan dengan sebutan ‘ndeplok’. Sekarang ini sebutan kopi ndeplok cukup familiar diterminal Sukorame.
“Tapi sudah empat bulan ini ndak ada kok mas, ora payu (tidak laku) karena ekonomi warga Sukorame dibawah prasejahtera, ndak nutut untuk ngopi ndeplok,†ujar pria yang masih muda itu. (tok)