Petaka Jelang Malam di Kampung Tepian Hutan

banjir sugihan

SuaraBanyuurip.comEky Nurhadi

Dua hari berturut-turut Desa Kedungsumber dihantam banjir bandang. Petaka menjelang malam itu membuat keselamatan ratusan KK dikampung tepian hutan terancam.

MENDUNG tebal menggelayut di wilayah Kecamatan Temayang, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Senin (18/3/2013). Ornamen senja yang biasanya tesebar indah dilangit tertutup awan pekat. Suasana kampung ditepian hutan jati itu pun menjadi murung.

Semurung raut muka Priyono. Pria paroh baya itu tak dapat menyembunyikan rasa cemas. Dibalik wajahnya yang kusut karena lelah, Priyono terus memandangi gumpalan awan yang terus berarak. Bayangan banjir bandang yang terjadi diperkampungnya di Dusun Sugihan, Desa Kedungsumber, Minggu (17/3/2013) kemarin, menjadi momok menakutkan.

Apalagi petaka yang terjadi menjelang malam itu merupakan yang terbesar dalam sejarah yang menghantam Dusun Sugihan. Air bercampur lumpur hutan mengalir deras memasuki perkampungan mereka. Menerjang rumah-rumah warga.

Jerit tangis bercampur kepanikan terpecah dari mulut perempuan dan anak-anak disana ketika air tiba-tiba datang bergulung-gulung. Mereka terjebak didalam rumah. Tak ada satupun yang sempat mengungsikan keluarga maupun barang berharga.

“Air datangnya begitu cepat. Bergulung-gulung seperti tsunami. Tingginya satu meter lebih,” kata Priyono kepada suarabanyuurip.com disela-sela membersihkan lumpur yang menumpuk didalam rumahnya.

Akibat amuk air bah itu, bapak satu anak itu bertahan didalam rumah. Dia menumpuk meja-meja menyelamatkan istri dan anaknya.

“Dari semalam belum tidur, mas. Menjaga istri dan anak,” ungkap Pak Seli- sapaan akrab Priyono.

Sesuai data dari Pemerintah Desa Kedungsumber, jumlah rumah yang diterjang banjir bandang itu sebanyak 230 yang tersebar di lima rukun tetangga (RT). Rumah rusak berat dan perabotan rumah tangga sebanyak 120 kepala keluarga (KK). Kerusakan terbanyak di RT. 10 dengan jumlah rumah rusak mencapai 94, RT 11 sebanyak 75 KK, RT. 12 ada 36 KK, RT. 13 sebanyak 15 KK, dan 11 rumah di RT. 14.

Baca Juga :   Hitam Putih Blok Cepu

“Semua rumah disini dilanda banjir bandang. Tak ada yang kelewat,” sergah Kepala Desa Kedungsumber, Didik Saputro.

Banjir bandang yang menerjang warga Dusun Sugihan itu dikarenakan tanggul Kali Sugihan jebol. Badan sungai tak mampu menahan tekanan air dari wilayah hulu yakni Desa Pajeng, Kecamatan Gondang. Ada enam titik tanggul jebol. Masing-masing titik yang jebol sepanjang 100 meter.

“Tanggulnya hanya tanah. Bukan tanggul permanen atau bronjong,” sergah salah satu staff Dinas Pengairan Bojonegoro, Sapto Sumarsono disela-sela membersihkan lumpur dibadan jalan Propinsi Bojonegoro – Nganjuk.

Kekhawatiran Priyono pun terbukti. Belum usai dia membersihkan lumpur didalam rumah dan menjemur barang-barangnya, banjir bandang kembali menghantam perkampungan Sugihan, Senin (19/3/2013). Hujan deras yang menguyur hampir setengah jam membuat sungai Sugihan kembali meluber. Dalam sekejab air mulai masuk ke pemukiman warga.

Meski aliran air tak sederas sehari sebelumnya, banjir itu cukup merepotkan warga. Mereka mengevakuasi barang-barang berharga ke tempat lebih aman. Aliran air setinggi 30 centi meter itu juga merendam jalan propinsi. Akibatnya arus transportasi Bojonegoro – Nganjuk lumpuh total.

Pengendara baik dari arah Bojonegoro maupun nganjuk sempat tertahan hampir dua jam karena menunggu aliran air surut.

“Baru kali ini saya hidup disini banjir bandang dua hari berturut. Ini yang terbesar,” sambung Priyono.
Senada juga sampaikan, Umi. Ibu satu anak itu mengaku takut dengan banjir bandang yang semakin besar melanda perkampungannya. Apalagi air yang menerjang rumah warga kian tak terkontrol.

Baca Juga :   Sejarah Perminyakan Itu dari Titik 0 Kilometer

“Kalau airnya terus tinggi ya ngungsi dirumah saudara di dekat kecamatan mas,” sambung Umi sambil menggendong anaknya yang terus menangis.

Tercatat, November 2012 lalu, Dusun Sugihan, juga diterjang banjir bandang. Namun bencana yang melanda tak sebesar Minggu kemarin.

Bagi warga Sugihan, banjir bandang memang sudah akrab dengan mereka. Karena setiap kali musim penghujan kampung selalu dilanda bencana. Namun banjir bandang kali ini lebih besar. Salah satunya dikarenakan curah hujan dibatas kewajaran.

Menurut pantauan Dinas Pengairan Bojonegoro, curah hujan mencapai 176 mili liter per detik. Berbeda dengan sebelumnya yang hanya mencapai 100 mili liter per detik. Siklus ini terjadi setiap lima tahun sekali.

“Seperti banjir besar Bengawan Solo yang terjadi akhir 2007 lalu itu siklus seratus tahunan,” papar Sapto Sumarsono.

Beda dengan yang diungkapkan, Sapto. Menurut Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Bojonegoro, Ahmad Jupari, banjir bandang yang melanda Dusun Sugihan lebih dikarenakan rusaknya hutan disekitar wilayah tersebut. Gundulnya hutan menjadikan air tidak bisa terserap sehinga langsung mengalir ke sungai.

“Mudah-mudahan dengan bencana ini bisa menyadarkan masyarakat untuk menjaga lingkungan,” sergah Jupari dikonfrontir terpisah.

Sekarang ini, Warga Dusun Sugihan hanya bisa pasrah pada nasib. Sebab banjir bandang yang kerap menerpanya adalah sebuah realita pahit yang tidak dapat dielak. Apalagi sampai saat ini tanggul Kali Sugihan belum juga diperbaiki sehingga banjir bandang masih mengintai dan mengancam keselamatan mereka. (bersambung)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *