SuaraBanyuurip.com – Athok Moch Nur Rozaqi
Bojonegoro – Berkurangnya lahan pertanian akibat eksploitasi, dan eksploirasi industri migas di sekitaran proyek Banyuurip, Blok Cepu berdampak kepada menurunnya hasil panen. Belakangan sebagian petani di sekitar desa proyek berwacana akan beralih ke sektor perkebunan.Â
“Kalau hasilnya terus menurun bukan tidak mungkin untuk beralih ke perkebunan,” ucap Sudjiran, asal Dusun Kaliglonggong, Â Desa Gayam, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Jumat (5/4/2013).
Hanya saja, menurut Sudjiran wacana tersebut harus ada dukungan dari Pemkab Bojonegoro. Sebab, pemerintah sebagai pemegang kebijakan.
“Kalau petani jelas tidak bisa, kita kaum petani hanya bisa menyuarakan kondisi di bawah paling tidak ada campur tangan pemerintah. Misalnya Perhutani atau dinas terkait,” katanya.
Dia menilai, sebagian lahan di Bojonegoro, khususnya di daerah sekitar Banyuurip, cocok untuk  dijadikan area perkebunan. Seperti halnya kelapa sawit atau tanaman perkebunan  lainnya. “Jadi tidak hanya pertanian saja,” ujarnya.Â
Menurutnya, sejak berkurangnya lahan pertanian, rata-rata hasil panen petani di desa sekitar Blok Cepu cenderung menurun hingga 50 persen. Dia mencontohkan, jika dulunya 2 ton sekarang hanya 1 ton.Â
“Tidak hanya saya, petani yang lain juga merasa seperti itu,”imbuhnya.Â
Petani lain, Gunawan, juga mengeluhkan hal serupa. Ibaratnya, jika dulunya petani bisa panen mencapai 8 ton kini hanya menghasilkan 4 sampai 5 ton.Â
Oleh karenanya, dengan adanya perkebunan, bagi yang lahannya telah terjual bisa beralih. Yang jelas peranan petani tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Bagaimanapun pemerintah harus memikirkan nasib para petani yang lahannya banyak berkurang.
“Untuk beralih ke ke kebun juga butuh proses, Mas,” katanya. (roz)Â Â