Nasib Nelayan Tradisional Kian Terpuruk

SuaraBanyuurip.comEdy Purnomo

Tuban – Sejak sepuluh tahun terakhir penghasilan nelayan tradisional di Kabupaten Tuban, Jawa Timur semakin merosot. Kondisi itu salah satunya disebabkan karena rusaknya lingkungan diperairan wilayah tersebut.

Rohmat (43), nelayan asal Kelurahan Karangsari, Kecamatan Kota, mengaku, kondisi nelayan  sekarang dibanding sepuluh tahun lalu jauh berbeda. Kalau dahulu, dia bersama istrinya bisa hidup sejahtera dari hasil laut. Bahkan istrinya bisa menambah penghasilan keluarga dengan mencari tiram (sejenis kerang), atau jenis tumbuhan laut seperti rumput laut yang digunakan untuk agar-agar.

“Saat saya masih beranak satu, rumput laut banyak ditemukan disini. Selain itu saya juga selalu membawa tangkapan ikan yang lumayan meski dengan perahu kecil,” kenangnya.

Namun kondisi itu saat ini hanya tinggal kenangan bagi nelayan Tuban. Karena kenyataannya saat ini lingkungan mereka rusak karena banyaknya terumbu karang yang mati. Imbasnya, pada berkurangnya jumlah ikan yang ada diperairan setempat. Kondisi ini diperparah dengan langkanya persediaan solar.

“Sudah begitu solar juga sering langka. Semakin lengkap saja penderitaan nelayan sekarang, mas,” tambahnya.

Baca Juga :   Mengaku Kebal Hukum Pelaku Kekerasan Seksual Ditangkap Polisi

Dikonfimasi terpisah, Ketua Himpunan Kerukunan Nelayan Tuban, Faishol Rosi, mengatakan, saat ini hasil laut memang jauh berkurang. Untuk itu diperlukan inovasi yang harus dilakukan nelayan. Diantaranya adalah mengenai bagaimana pengolahan ikan dan hasil laut lain.

“Untuk mewujudkan itu dibutuhkan campur tangan pemerintah, agar nelayan bisa seperti itu,” terang pria yang juga pengusaha bidang jual beli ikan ini.

Hingga saat ini, suarabanyuurip.com belum mendapatkan jawaban dari Dinas Perikanan dan Kelautan Tuban mengenai kondisi nelayan sekarang ini karena libur akhir pekan. Sementara itu, Sekretaris Dinas Perikanan dan Kelautan M Amenan, dikonfirmasi belum memberikan jawaban saat dihubungi melalui Short Message Service (SMS).

Yang pasti kondisi nelayan sekarang ini sangat memprihatinkan. Walaupun pada 6 April 2013, merupakan Hari Nelayan Nasional (HNN), namun peringatan yang dilakukan saban tahun itu tidak membawa perubahan bagi nelayan secara langsung. Bahkan banyak nelayan yang tidak mengerti kalau hari ini adalah hari peringatan untuk profesinya.

“Apa itu mas hari nelayan nasional?,” jawab Rohmat (43) kembali bertanya ketika disinggung tentang HNN. (edp)

Baca Juga :   Banyaknya Bencana, PCNU Bojonegoro Ikuti Doa Bersama PWNU Jatim

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *