SuaraBanyuurip.com -Â Edy Purnomo
Tuban – Kelangkaan solar di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU)yang terjadi beberapa bulan ini berdampak bagi penghidupan nelayan di Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Mereka tidak tidak bisa mengoperasikan perahunya untuk mencari ikan laut.
Nelayan yang menggunakan perahu besar maupun perahu kecil merasa kesulitan mendapat solar. Imbasnya mereka harus mengurangi intensitas untuk berlayar.
“Bukan sulit lagi mas, tapi sulit sekali nelayan dapat solar,†terang Ketua Rukun Nelayan Desa Palang, Kabupaten Tuban, Khoirul Kirom ditanya kondisi nelayan disekitar wilayah setempat.
Dijelaskan Khirom, nelayan dengan menggunakan perahu besar dalam keadaan normal bisa berlayar hingga 3 kali dalam sebulan. Namun akibat langka solar saat ini mereka hanya bisa berlayar satu kali saja dalam satu bulan. Sedang untuk nelayan yang menggunakan perahu kecil, saat ini tidak bisa intens satu hari sekali untuk melaut.
“Kalau boleh memilih. Kami lebih suka dapat harga mahal, tapi barangnya ada. Daripada murah tidak ada barang,†keluh Khirom.
Sementara itu, disejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Tuban banyak ditemukan antrian jerigen. Jerigen – jerigen ini adalah milik dari nelayan yang telah mengantri sejak pagi hari tadi. Seperti yang terjadi di SPBU Manunggal, SPBU Palang, SPBU Gerdu laut dan sejumlah SPBU lain yang berada dikawasan pesisir.
“Sulit dapat solar mas. Ini saja kita sudah mengantri usai subuh tadi,†sambung Subekan (32), warga Kelurahan Karangsari, Kecamatan Kota, Tuban.
Salah seorang petugas SPBU mengatakan, sudah satu pekan ini stok solar dibatasi. Pasokan yang biasanya hingga 42 ton dalam satu kali dropping, saat ini hanya pasokan sekitar 23 ton saja. Kondisi inilah yang membuat nelayan yang banyak memanfaatkan solar jadi balik kucing.
“Dulu sekitar 42 ton stoknya sekali droppping. Sekarang tidak pasti, yang jelas jumlahnya selalu berlkurang,†terang petugas SPBU Ndasin yang meminta tidak disebutkan identitasnya. (edp)