SuaraBanyuurip.com – Ririn W
Bojonegoro – Saat ini para petani di Bojonegoro, Jawa Timur dirundung resah karena Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar langka. Â Sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang mereka datangi pada hari, Sabtu (13/4/2013), memasang papan bertuliskan “Maaf Solar Habis”.Â
Kabar pengurangan kiriman solar dari Pertamina menjadikan bajak sawah bermesin desel milik petani berhenti. Santernya kabar yang beredar akan ada kenaikan harga BBM bersubsidi dalam waktu dekat, kian menambah deretan panjang keresahan petani.Â
Pula yang dirasakan, Prapto (45), petani dari Desa Sukorejo, Kecamatan Kota. Petani paruh baya ini merasa makin tertindas, dengan kabar kebijakan akan ada kenaikan harga BBM. Bagaimana hal ini akan meningkatkan kesejahteraan jika kenyataan justru sebaliknya.
“Saya mendengar Bojonegoro adalah daerah penghasil minyak, tapi kenapa tidak ada rasa keadilan untuk warganya?” kata bapak dua anak ini saat ditemui di sawahnya.
Meskipun begitu dia mengaku pasrah. Disadarinya sebagai rakyat kecil tak akan bisa berbuat apa-apa. Walau diakuinya bakal berdampak dalam kegiatan bercocok tanam yang selama ini dilakukannya.
Seperti kaum petani yang hidup di desa lainnya. Mereka hanya bisa menunggu. Kapan jatah solar kembali datang ke SPBU, agar bisa mereka beli untuk menyalakan lagi bajak bermesin desel yang selama ini mengganti peran sapi dan kerbau.
“Satu hari biasanya membutuhkan 10 sampai 15 liter solar untuk membajak sawah, tapi beberapa hari selalu kehabisan meskipun rela antri berjam-jam. Kalau saya punya sapi mungkin tidak bingung seperti sekarang ini,” katanya lirih.
Diperoleh informasi, pengurangan jatah solar bersubsidi ini dikarenakan wacana Pemerintah Pusat yang mengkalkulasi kuota subsidi BBM 2013. Jika subsidi tetap dilakukan, atau tidak dikurangi APBN bakalan jebol. Untuk itu pula itu wacana menaikkan harga BBM pun kembali muncul.
Sejauh ini, Pemerintah Pusat terkesan memberikan sinyal untuk tetap menaikan harga BBM bersubsidi. Hal ini tentunya mengundang pro dan kontra di berbagai kalangan. Lalu bagaimana dengan nasib rakyat kecil, seperti Prapto tadi? (rien)Â