SuaraBanyuurip.com – Edy Purnomo
Tuban – Satu persatu santri yang menjadi joki Ujian Nasional (Unas) Paket C di Pondok Pesantren Alya’un Najwa, Dusun Singkel, Desa Mentoro, Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban, Jawa Timur mulai buka suara dihadapan penyidik Polres Tuban. Mereka mengaku mau menjadi joki unas dikarenakan merasa segan kepada Ikwan Efendi, otak pelaku perjokian unas yang kini ditetapkan sebagai tersangka.
Menurut pengakuan sejumlah santri yang menjadi joki unas, para santri mau menjadi joki unas karena Ikwan Efendi merupakan pengasuh pondok pesantren. Selain itu pelaku adalah tokoh yang dihormati para santri maupun dilingkungan masyarakat disekitar pondok setempat.
Sebelumnya, para santri itu mengaku tidak ada niatan untuk menjadi joki. Mereka juga tidak tahu kalau yang dilakukan adalah perbuatan melanggar hukum.
“Saya mau menggantikan peserta karena disuruh, saya juga tidak tahu kalau sampai begini,†kata ES (15), salah satu dari kedua puluh Joki yang diamankan Polres Tuban.
Selain itu, para santri itu juga mengaku, pengasuh pondok berjanji memberi uang Rp10 ribu kepada santri yang mau menggantikan peserta yang tidak hadir selama 3 hari. Meski begitu para santri itu menolak dikatakan mau menjadi joki unas karena adanya imbalan. Tapi lebih kepada rasa segan dan hormat mereka sebagai santri kepada pengasuhnya.
“Kita merasa ewuh pakewuh (segan), bukan karena imbalan,†sergah ER (16), joki lain yang juga merupakan warga sekitar pondok pesantren.
Seperti diberitakan sebelumnya, sekitar dua puluh joki Unas paket C diamankan mapolres Tuban. Mereka terbukti menggantikan sekitar 20 peserta dari 45 peserta yang seharusnya mengikuti Unas paket C di pondok pesantren Alya’un Najwa.
Saat ini, petugas menetapkan satu tersangka, Ikwan Effendi, pengasuh pondok pesantren Alya’un Najwa. Sementara kedua puluh joki Unas ini akan dikembalikan keorang tuanya, karena sebagian besar merupakan anak dibawah umur.(edp)