SuaraBanyuurip.com – Ririn W
Bojonegoro- Dari 75 pemuda yang terpilih menjadi peserta pelatihan, dan sertifikasi yang diberikan oleh operator Lapangan Banyuurip Blok Cepu, Mobil Cepu Ltd (MCL) pada bulan Maret 2013 lalu, hanya 15 peserta yang dinyatakan lulus. Mereka yang mendapatkan sertifikat, sementara yang lain nasibnya tak jelas.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sosial (Disnakertransos) Pemkab Bojonegoro, Iskandar, mengungkapkan, pelatihan bersertifikat tersebut masing-masing meliputi; Scaffolding (25 orang), Rigging (25 orang), dan Welder  (25 orang).
“Tapi kabar terakhir hanya 15 orang yang lolos untuk sertifikasi,†jelasnya kepada SuaraBanyuurip, Jumat (19/4/2013).
Dirinya menyayangkan sikap MCL yang tidak memberikan informasi apapun, terkait 15 peserta yang mendapatkan sertifikasi di Pudiklat Cepu pada 10 April 2013. Bahkan, data maupun nasib para peserta pun pihaknya tidak tahu menahu.
“Dalam waktu dekat kami akan memanggil MCL terkait hal itu,†tegasnya.
Iskandar mengungkapkan, meskipun kegiatan pelatihan, dan sertifikasi adalah bentuk Corporate Social Responbility (CSR) dari MCL, bukan berarti pihaknya tidak dilibatkan sama sekali. Â Karena bagaimana pun dari awal pelaksaan, Disnakertransos ikut turun tangan.
“Paling tidak kami diberitahu dari 15 peserta yang lolos sertifikasi itu mana saja, lalu nasibnya bagaimana,†tukasnya.
Diungkapkan, tidak hanya kepada MCL saja merasa kecewa dengan ketidak pedulian pada nasib para peserta baik itu yang lolos maupun yang tidak lolos. Akan tetapi juga kepada para kontraktor migas terutama yang saat ini sudah melakukan kegiatan Enginnering, Procurement  and Construction (EPC).
“Bahkan ada kontraktornya MCL yang sembunyi-sembunyi merekrut tenaga kerja seperti Welder. Kebanyakan mereka tidak berkoordinasi dengan kita, namun justru kepada kepala desa,†tandasnya.
Hal itu tentu saja akan merugikan para tenaga kerja itu sendiri, dan juga tidak terkoordinirnya secara baik tenaga kerja lokal khususnya di industri migas. Hal inilah yang akan menimbulkan spekulasi negatif di masyarakat.
Terpisah, Public and Government Affair ManagernMCL, Rexy Mawardijaya, ketika dikonfirmasi mengenai hal ini belum memberikan jawabannya. (rien)