Ritual Rebutan Makanan dan Bagi-bagi Emas

SuaraBanyuurip.com -  Winarto

Bojonegoro – Ada tradisi unik rebutan makanan dan bagi-bagi emas yang masih  dilakukan warga sekitar ladang migas Blok Cepu. Warga menamakannya tradisi  tumpak punjen. Ritual itu dilakukan warga saat menikahkan anak bungsu mereka. Konon tradisi tersebut sebagai simbul keberhasilan orang tua karena semua anak-anaknya sudah berkeluarga (menikah).

Anehnya, tradisi itu tidak banyak yang tahu apa tujuan sejati dari ritual tumpak punjen. “Kula nggih mboten ngertos mas, niki jare tiang-tiang riyin kedah ngaten, (saya tidak tahu mas, kita hanya meneruskan tradisi orang tua-tua dulu),” ujar salah seorang warga  di Desa Mojodelik, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Sabtu (20/4/013).

Meski mereka tidak tahu apa maksud dan tujuan sebenarnya dari ritual itu, warga tetap melaksanakan sebagai bagian dari tradisi yang telah dilakukan orang-orang sebelumnya.

Uniknya ritual tumplek punjen harus dilakukan dibawah terop janur kuning dimana kedua mempelai dipertemukan. Semua saudara penganten dikumpulkan untuk mengikuti selamatan bersama dan rebutan ambeng.

Baca Juga :   Kembangkan Embung Kali Glonggong Gayam Jadi Wisata Alam dan Kuliner

Tak hanya itu, ibu penganten juga membagikan amplop yang konon berisi butiran emas kepada semua anak-anaknya.

“Saya sendiri tidak tahu mas, apa maksutnya yang penting niat saya menikah dengan isteri sudah berlangsung dengan baik,” kata M. Jai, penganten pria dari Desa Sumengko, Kecamatan Kalitidu  yang resmi menjadi isteri Nyatmi asal dusun Ledok, Desa Mojodelik, Kecamatan Gayam.

Dijelaskan, dia menikahi  Yatemi  yang memiliki 8 saudara. ” Karena isteri saya anak bungsu kata orang-orang tua harus dilakukan tradisi Tumplek Punjen,” ungkap Kang Jai, kepada suarabanyuurip.com.(win)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *