SuaraBanyuurip.com – Ririn W
Bojonegoro– Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Sosial (Disnakertransos) Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur masih menunggu laporan resmi dari Operator migas Blok Cepu,Mobil Cepu Limited (MCL) terkait peserta pelatihan dan sertifikasi yang dilakukan pada Maret 2013 lalu. Sebab sampai hari ini baik MCL maupun Balai Latihan Kerja (BLK) Propinsi Jawa Timur dan Pusat Pendidikan Latihan (Pusdiklat) Migas Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah yang dikontrak MCL untuk menyelenggarakan pelatihan ini belum memberikan laporan resmi.
Justru, Disnakertransos Bojonegoro memperoleh data perkembangan pelatihan sertifikasi itu dari situs resmi Pusdiklat migas Cepu. Disitus www.pusdiklatmigas.com itu, Disnakertansos memperoleh data dari 75 peserta latih hanya 33 orang yang dinyatakan lolos. Rinciannya untuk scaffolding 25 orang, welder 6 orang dan rigging 2 orang.
Inisiatif mencari data itu terpaksa dilakukan Disnakertransos karena ada kontraktor engineering, procurement and constructions (EPC) -1 Banyuurip, PT. Tripatra Engineers & Constructors, membutuhkan tenaga welder.
“Bayangkan saja, dari ratusan peserta yang tertera di situs itu kami harus mencari dan mencatat satu persatu peserta yang lolos sertifikasi. Padahal disitus datanya mencakup seluruh Indonesia,†keluh Kepala Disnakertransos Bojonegoro, Isakandar.
Iskandar mengaku, menyayangkan sikap BLK Jatim maupun Pusdiklat Migas Cepu yang melakukan uji kompetensi yang tidak segera meberikan data perkembangan peserta sertifikasi kepada MCL.
“Seharusnya dari awal mereka memberikan laporan secara berkala. Sehingga kita tahu perkembangan peserta latih,†tegas mantan Kepala Satpol PP Bojonegoro ini
Menurut dia, dengan model pelaksanaan pelatihan sertifikasi seperti itu memunculkan kesan tidak baik dipublik. Pelatihan yang dilaksanakan seperti tanpa ada tindak lanjut.
Namun, lanjut Iskandar, kesan seperti itu tidak akan terjadi bila sejak awal kontrak kerja Disnakertransos diikutsertakan. Sehingga Disnaketransos akan mengetahui schedulenya. Agar setelah pelaksanaan pelatihan dan sertifikasi itu selesai, para peserta langsung masuk database dan mendapatkan AK 1.
“Ada kesan begitu dibuka,dilaksanakan terus selesai. Tidak ada terusannya dengan kita,”pungkasnya.
Terpisah,Public and Goverment Affairs Manager MCL, Rexy Mawardijaya, mengakui, jika pihaknya belum mendapatkan laporan secara resmi dari Pusdiklat Cepu terkait data perkembangan peserta sertifikasi.
“Kami memang belum mendapatkan laporan secara resmi dari Pusdiklat Cepu. Jika sudah ada akan kami serahkan langsung kepada Disnakertransos,” sambung Rexy.
Rexy mengungkapkan, akan terus melakukan program pelatihan dan sertifikasi ini kepada masyarakat Bojonegoro sebagai bekal masa depan terlebih masuknya industrialisasi migas. Sehingga,pemuda daerah mendapatkan ilmu sekaligus sertifikat sebagai modal bekerja tidak hanya di migas saja tapi non migas.
“Ke depan kami akan terus berkoordinasi dengan Pemkab setempat terkait program ini,”tandasnya.
Untuk diketahui, pelatihan bersertifikat yang diikuti 75 peserta tersebut merupakan program corporate social responsibility (CSR) MCL untuk membekali warga sekitar pemboran dengan keterampilan. (rien)