MCL Kembali Sosialisasi Tajak Sumur

sosiaslisasi tajak

SuaraBanyuurip.comSamian Sasongko

Bojonegoro- Operator ladang migas Blok Cepu,  Mobil Cepu Ltd (MCL) kembali menggelar sosialisasi tajak sumur pengembangan lapangan Banyuurip. Kali ini dilakukan di Desa Bonorejo, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, di rumah Kades setempat, Rabu(24/4/2013).

Pantauan Suarabanyuurip.com di lokasi acara menyebutkan, hadir dalam acara sosialisasi adalah perwakilan MCL, Pertamina Drilling Service Indonesia (PDSI), SKK Migas, pemerintah desa Bonorejo, dan Muspika Kecamatan Gayam, Pemkab Bojonegoro, Pam Obvit, dan sejumlah undangan dari perwakilan masyarakat.

“Kami minta agar dijelaskan juga dampak-dampaknya pada sosialisasi ini. Karena jarak pemboran dengan rumah warga cukup dekat. Yakni, sekira 500 meter dari lokasi,” ujar Kades Bonorejo, Siti Rokhayah, dalam sambutannya.

Selain itu, lanjut Siti Rokhayah, juga terkait dengan keterlibatan tenaga kerja lokal harus diperhatikan secara maksimal sesuai kemampuan masing-masing sebelum pengerjaan pengeboran itu dilaksanakan. “Keterlibatan tenaga lokal dan dampak lingkungan itu perlu menjadi perhatian yang serius. Agar gejolak warga bisa dieliminir,” ungkapnya. 

Field Public and Government Manager MCL, Rexy Mawardijaya, mengatakan, dari 4 sumur Banyuurip Blok Cepu yang semula diproduksi 20 ribu barel per hari sekarang sudah meningkat sekira 24 ribu barel per hari. Hal itu masih jauh dari target yang ditentukan pemerintah untuk produksi puncak sebesar 165 ribu barel per hari.

Baca Juga :   Bahas Sumur Tua, DPR Kritisi Dinas ESDM Bojonegoro

“Kami akan tetap memenuhi target itu. Namun, untuk mencapai target, harus melakukan produksi dari 49 sumur. Yang ada di A B C secara bertahap,” jelas Rexy dihadapan tamu undangan yang hadir dalam acara sosialisasi di rumah kades Bonorejo, Siti Rokhayah.

Dari perwakilan PT Rutledge Indonesia bagian penanggulangan H2S, Bimo, mengatakan, H2S adalah suatu gas yang ditimbulkan dari dalam sumur itu sendiri yang berasal dari mahluk hidup yang sudah mati. Akan tetapi,  tidak semuanya memiliki H2S. Ada juga sumur minyak yang tidak punya H2S. Meski demikian, gas beracun itu tetap menjadi perioritas sebagai perhatian serius untuk dimusnahkan. 

Dia katakan, pada dasarnya H2S adalah gas yang berbahaya karena beracun. Yang bahunya seperti telur busuk. Penanggulangannya adalah dengan cara dibakar dan permasalahan itu sudah diantisipasi sebelum pemboran dilaksanakan. Yakni, dengan cara memasang peralatan sensor untuk penetralan baik di Rig maupun di titik rawan lainnya. Semisal pemasangan lampu monetor dan alarem sirine.

“Sehingga jika terjadi sesuatu yang membahayakan akan mudah dilihat dan diantisipasi penetralannya,” jelas Bimo.

Baca Juga :   Juni Proyek Gas Flare Dimulai

Perlu diketahui, MCL sebelumnya, MCL telah melakukan sosialisasi tajak Sumur Pengembangan Lapangan Banyuurip, Blok Cepu ini di Desa Mojodelik, Kecamatan Gayam, Bojonegoro, Jawa-Timur Selasa (23/4/2013) kemarin. Yakni, bertempat di Aula Rumah Kepala Desa Mojodelik, Sandoyo.(sam)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *