SuaraBanyuurip.com – Ririn W
Bojonegoro– Dari lima paket pekerjaan Engineering, Procurement and Cosntructions (EPC) di proyek Lapangan Banyuurip, Blok Cepu hanya EPC 5 yang mengerjakan pekerjaan infrastruktur dinilai terlambat.
Pekerjaan yang dikerjakan oleh konsorsium PT Rekayasa Industri dan PT Hutama Karya ini mengerjakan diantaranya Basin (Kapasitas 2,75 juta m3), Building (31 Building), Fly Over (Ramp arah Cepu-Bojonegoro dan Fly Over arah Bojonegoro – EPC 5, Pipeline (Mengalirkan air dari Bengawan Solo ke Basin), River Water Intake (Intake air dari Bengawan Solo) masih berjalan sekitar 29 persen.
Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Rudi Rubiandini, menyatakan, keterlambatan proyek EPC 5 selama empat bulan tersebut dikarenakan pada pengalaman sebelumnya ada beberapa ijin yang memang agak lama penyelesaiannya dan sebagainya.
Sementara, President Director PT Pertamina EP Cepu, Amril Thaib Mandailing, menimpali jika keterlambatan proyek EPC dikarenakan adanya penyesuaian ketika melakukan kontrak dengan seluruh lokal konten.
“EPC harus menyesuaikan Perda yang ada sehingga membutuhkan waktu,†imbuhnya.
Dia katakan, ketika kontrak sudah siap berjalan beserta tenaga ahlinya mereka tidak bisa bekerja. Jadi dampaknya adalah keterlambatan proyek, dan adanya kerugian yang ditimbulkan secara nominal.
“Jumlahnya masih kita bicarakan,†tandasnya.
Selain itu, EPC 5 ini pada awalnya membutuhkan air, dan pada saat EPC 1 sudah selesai akan dilakukan uji coba yaitu hidrotes. Akan tetapi sumber mata airnya belum didapatkan sehingga perlu dikoordinasikan
“Ini perlu adanya ijin penggunaan air dari sungai Bengawan Solo, ini yang perlu waktu. Mudah-mudahan segera diberikan ijin tersebut,†imbuhnya. (rien)