Mereka Disekolahkan Hingga Dibekali Keterampilan

SuaraBanyuurip.com - 

SUARA canda tawa terdengar riuh dari sebuah rumah minimalis bercat hijau muda, Sabtu (11/5/2013) siang. Rumah toko (Ruko) di Jalan Giri 06 Kecamatan Kota Lamongan, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur itu terlihat puluhan anak-anak sedang asyik membuat bunga dari gelas plastik bekas. Mereka tampak serius mengikuti arahan seorang wanita  berwibawa.

Dia adalah Bunda Bunda Wafi. Dengan dibantu empat remaja, Bunda Wafi dengan telaten dan sabar membimbing puluhan anak-anak yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Mereka adalah para anak jalanan (Anjal) yang selama ini diasuh Bunda Wafi. Puluhan anak itu rutin ke Wify Ceria, rumah Bunda Wafy untuk memperoleh keterampilan dan pelajaran budi pekerti.   

“Seminggu minimal satu kali mereka berkumpul disini, Mas,” kata Bunda Wafi pemilik Bunda Wafy Ceria.

Di Wafi Ceria ini ada sedikitnya 37 anjal. Sebelum diasuh Bunda Wafi, para bocah itu terbiasa hidup keras menjadi anak jalanan. Sehingga tidak mengenal tata krama, budi pekerti dan terkesan liar. Waktu mereka setiap hari dihabiskan dijalanan sebagai penjual asongan, pengamen dan pengemis untuk membantu menopang ekonomi keluarga.

Sedikitpun tak tersisa waktu untuk belajar dan bermain. Masa kanak-kanaknya terampas oleh kerasnya kehidupan.

“Tapi sekarang mereka sudah berubah. Sedikit demi sedikit mereka mulai mengenal tata krama,” ungkap Bunda Wafi.

Disamping memperoleh keterampilan di Wafy Ceria, puluhan anjal juga disekolahkan. Mereka memperoleh biaya pendidikan mulai dari  dari uang sekolah, buku, pakaian seragam dan kebutuhan sekolah lainnya. Semua biaya itu dipenuhi oleh Bunda Wafi.  Bahkan setiap tahun mereka juga mendapatkan baju baru dan kebutuhan lebaran lainnya.

Baca Juga :   Menantang Terik di Ladang Migas Banyuurip

“Saya hanya ingin berbagi rejeki yang saya dapat dari Allah kepada anak-anak yang kurang beruntung, “ cetus wanita juga sebagai Ketua Relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Lamongan ini.

Bagi bunda Wafi, mengeluarkan biaya jutaan rupiah setiap bulan untuk puluhan anjal itu bukan suatu masalah. Karena biaya itu mampu dia cukupi dari hasil beberapa usahanya seperti rosok, studio musik dan distributor obat herbal.

Karena itu, wanita berjilbab kelahiran 1976 itu selalu menolak dengan hasul bantuan dari beberapa donatur. Alasan Bunda Wafi cukup sederhana, dia tak mau ada pamrih yang justru mengikatnya dan anak-anak asuhnya.

“Saya sangat bersyukur selama ini masih bisa mencukupi semua kebutuhan anak-anak, “ tegas wanita enerjik ini.

Bunda Wafi mengungkapkan, pendirian Wafi Ceria bagi anak jalanan ini dilatarbelakangi dari rasa keprihatinannya terhadap banyaknya anjal di Kabupaten Lamongan. Mereka yang masih berusia sekolah berkeliaran mencari uang recehan di dijalan-jalan, dan dilampu merah. Dari alasan itulah akhirnya dia menghampiri satu persatu anjal dan keluarganya untuk menawarkan menjadi orang tua asuh.

Tawaran itu akhirnya disetujui. Kemudian pada 2005, Bunda Wafi mendirikan sebuah tempat khusus Wafi Ceria pada 2005 bagi anjal. Tujuannya adalah menampung anjal agar memperoleh pendidikan layak.

“Kebanyakan mereka dari keluarga pemulung. Orang tua mereka tidak mampu membiayai sekolah mereka,” tutur Wafy yang juga anggota club sepeda onta Ontoseno ini.

Menjadi orang tua asuh yang mengasuh puluhan anjal, bagi Bunda Wafi, bukan perkara mudah. Awalnya, dia sempat dibuat frustasi. Semua kebutuhan anak asuhnya yang diberikan kepada orang tua tak sampai kepada anak jalan. Uang tersebut habis digunakan untuk bermain judi. Akibatnya anak-anak itu kembali kejalanan.

Baca Juga :   Penghuni Tanah Gersang Nikmati Air Depan Rumah

“Pengalaman itu akhirnya memabuat saya semakin mengerti. Akhirnya uang untuk sekolah mereka langsung saya berikan kepihak sekolah. Sedangkan untuk kebutuhan baju seragam, buku dan lainnya, saya langsung mengajak mereka berbelanja,” papar Bunda Wafi.

Wati, salah satu anak asuh Bunda Wafi, mengaku, sangat senang menjadi anak asuh Bunda Wafi. Anak kelas V SD itu merasa lebih tenang belajar dan bersekolah. “ Dulu saya setiap harinya ngamen di jalan pak. Setahun ini tidak lagi karena telah dicukupi kebutuhan sekolah saya oleh Bunda,” timpal Wati.

Senada juga disampaikan Wawan. Pelajar SMP yang sebelumya mengamen di lampu merah sekitar Alun-alun Lamongan itu merasa betah setelah diambil anak asuh Bunda Wafi. “Bunda memperlakukan kami seperti anak kandungnya sendiri, “ terang anak berkulit legam ini

Untuk membina puluhan anak asuhnya, Wafi dibantu 4 orang. Mereka mendapat honor bulanan dari kocek bunda Wafi pribadi. Wafi mengaku bersyukur, telah banyak mengantar anak asuhnya hingga lulus SMP. Walau bukan pekerja kantoran, banyak anak asuhnya yang telah memiliki pekerjaan tetap. Seperti menjadi pramuniaga dan kerja di POM bensin.

“ Mereka banyak yang datang kesini. Memberikan bingkisan untuk adik-adiknya,” sambung Wafy kembali, bangga.

Sebenarnya, Wafy mengharapkan anak-anak asuhnya bisa bersekolah hingga ke jenjang lanjutan atas (SMK/SMA). Namun begitu lulus SMP anak asuhnya memilih untuk bekerja untuk meringankan beban hidup orang tuanya.  Yang pasti dengan kepedulian yang dilakukan Bunda Wafi ini masa depan para anjal kian terbuka lebar.(totok Martono )

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *