Energi Listrik Dari Enceng Gondok

SuaraBanyuurip.com – Totok Martono

Lamongan– Pemkab Lamongan, Jawa Timur mengembangkan pembangkit listrik dari bahan baku enceng gondok. Untuk proyek energi terbarukan yang ini menggandeng Hyacinth Energy BV dari Amsterdam, Belanda, dan ITS Surabaya.

Menurut Kabag Humas dan Infokom Pemkab Lamongan, Mohammad Zamroni, akhir tahun ini pembangkit listrik alternatif tersebut sudah bisa dioperasionalkan dengan produksi listrik 1 mega watt.

“Sudah ada penandatangan MoU (Memorandum of Understanding) antara Pemkab dengan Hyacinth Energy BV dari Amsterdam Belanda bersama Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya tertanggal 27 Mei 2013 lalu,“ kata Zamroni, Sabtu (1/6/2013).

Enceng gondok di Lamongan selama ini ini memang menjadi hama pengganggu yang sulit dicarikan solusinya. Di kawasan Bengawan Jero, mulai hulu hingga hilir ditutupi enceng gondok dengan ukuran yang sangat besar. Selain itu sungai dan area tambak juga banyak ditumbuhi enceng gondok sehingg menyumbat aliran air.

Berdasar kajian Hyacinth Energy BV, enceng gondok di kawasan Bengawan Jero ternyata berpotensi sebagai bahan baku energi listrik. Jika ditambah dengan sampah organik dari kegiatan domestik dan pertanian, akan mampu menghasilkan energi listrik dengan kapasitas 10 mega watt.

Baca Juga :   Identitas Mrs X Terkuak

Pada tahap pertama, lanjut dia, listrik yang diproduksi mencapai 1 mega watt dengan kebutuhan bakan baku enceng gondok dan sampah organik 60 ton per hari. Sedangkan proses prosuksinya diklaim ramah lingkungan, karena menghasilkan limbah padat berupa komposit organik yang bisa menjadi bahan pupuk organik, dan limbah cairnya akan dijadikan air minum dalam kemasan.

Untuk energi listrik yang dihasilkan, sudah ada kesepahaman dengan PT PLN yang bersedia membeli energi listrik tersebut.

Dia tambahkan, keberadaan pembangkit energi terbarukan ini nampaknya juga bakal mendapat sokongan dari banyak pihak. Terlebih PBB sudah mengalokasikan dana sebesar US $ 100 miliar untuk insentif  Negara-negara berkembang yang mau menurunkan emisi menggunakan energi terbarukan.

“Terobosan ini tentunya dapat menjadi energi alternatif untuk menggantikan migas yang semakin menipis persediaannya, “ pungkas Zamroni. (tok)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *