SuaraBanyuurip.com – Edy Purnomo
Tuban – Tiga tersangka pencurian peralatan pengeboran milik PT Pertamina Eksplorasi dan Produksi (PPEP) mengungkapkan kejengkelannya pada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini, Sabtu (8/6/2013).
Kejengkelan mereka, akibat ulah dari perusahaan yang tidak pernah mempedulikan nasib warga Desa Banyuurip. Serta dinilai tidak ada iktikad baik untuk menyelesaikan beberapa permasalahan yang ada antara perusahaan dengan masyarakat.
“Saya jengkel dengan perusahaan, masa setiap hari bikin suara gaduh dan polusi saat mengebor. Tapi masyarakat tidak pernah dapat apa-apa,†terang salah satu tersangka, Sunoto, yang juga warga Desa Banyuurip, Kecamatan Senori, Kabupaten Tuban kepada SuaraBanyuurip.com di Mapolres Tuban.
Tersangka lain, Krisantono alias Usro, warga Desa Mulyorejo, Kecamatan Singgahan, Tuban, Â memberi pengakuan lain kepada SuaraBanyuurip.com. Dia katakan, merasa jengkel dengan kejadian yang pernah menimpa salah satu kerabatnya pada tahun 1992 lalu.
Saat itu pamannya bernama Sarbini, pernah terbakar akibat terkena percikan api dari mesin pengeboran yang menyala hingga terluka parah di lokasi itu. Tapi hingga saat ini dia mengaku keluarga pamannya belum pernah mendapat perhatian dari Pertamina.
“Setiap saya komunikasikan dengan nduwuran (petinggi) Pertamina. Jawabannya selalu nanti dan nanti saja,†kata Usro’, tersangka yang mengaku bekerja outsourching di Peratmina EP sebagai mekanik ini.
Lainnya, mereka mengaku bahwa gejolak sosial dan ketidak puasan kerap terjadi ditengah masyarakat. Khususnya di Desa Banyuurip, Kecamatan Senori, Tuban. Kondisi ini diakui sejak adanya pengeboran minyak ditempat tersebut.
“sejak tahun 1973 tidak pernah ada apa-apa,†tambahnya.
Hingga berita ini ditulis, SuaraBanyuurip.com masih menunggu konfirmasi lengkap dari PPEP mengenai permasalahan ini. (edp)