SuaraBanyuurip.com – Ririn W
Bojonegoro- Rencana penggunaan air untuk injeksi puncak produksi minyak Banyuurip, Blok Cepu hingga kini masih dibahas ditingkat pusat. Hal tersebut untuk mengkaji tingkat ekonomis antara menggunakan sistem desalinasi atau penyulingan air laut menjadi air tawar dengan air Bengawan Solo.
Kepala Humas Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Elan Biantoro, mengungkapkan, hitung-hitungan penggunaan air pada puncak produksi minyak Banyuurip sudah dilakukan selama ini. Â
“Arahnya memang pada sungai Bengawan Solo, itupun setelah berkoordinasi dengan otoritas dan Balai Besar Bengawan Solo Provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah,” ungkapnya kepada www.suarabanyuurip.com, Senin (10/6/2013)
Dia menjelaskan, pemilihan penggunaan air Sungai Bengawan Solo ini dikarenakan pemompaan air masih mencukupi. Sedangkan jika memakai sistem desalinasi masih difikirkan dampak terhadap jadwal target produksi puncak Banyuurip.
“Jangan sampai ketika membuat sistem desalinasi ini justru menghambat proyek Blok Cepu,” tandas Elan.
Dia menambahkan, untuk sementara ini injekasi puncak produksi minya Banyuurip tetap memakai skenario awal yakni menggunakan air Sungai Bengawan Solo karena waktu untuk mengerjakan proyek ini masih lama. Selain itu pihaknya juga sedang mencari skema yang tepat untuk desalinasi ini.
“Kami juga membuat simulasi konsep yang lain seperti over injection. Untuk sementara ini ya dijalankan dulu karena kan lapangan juga berjalan lama. Desalinasi jika memang dibutuhkan baru dilakukan, tapi itu perlu difikirkan terlebih dahulu,” papar Elan. (rien)