Suyoto Ungkap Kunci Pencapaian Produksi

SuaraBanyuurip.comRirin Wedia

Bojonegoro – Untuk mencapai puncak produksi di ladang migas Blok Cepu pada tahun 2014 nanti, Bupati Bojonegoro Suyoto memiliki empat kunci menuju sukses. Melalui kunci ini Suyoto optimis Blok Cepu bisa memberi kontribusi besar kepada warganya.  

Empat kunci tersebut adalah, aspek bisnis yaitu tersedia dana digunakan efektif efisien, aspek teknis yaitu  tersedia teknologi dan SDM, aspek legal dan tata kelola yaitu simple, singkron dan berkepastian, serta aspek sosial yaitu  kondisi sosial yang kondusif dan mendukung penuh.

“Mengapa soal manusia atau sosial? Karena tanpa dukungan sosial sulit tercapai target, dan  ekspolitasi migas ujung-ujungnya juga untuk kesejahteraan dan kemajuan. Disini tentu rakyat terdekat juga berhak, tapi perlu komitmen semua pihak,” jelas Suyoto kepada Suarabanyuurip.com, Selasa (24/6/2013).

Dia mengungkapkan, Bumi Angling Dharma memiliki pengalaman karena memiliki potensi migas. Migas dari Kabupaten Bojonegoro kini ditunggu mampu menyumbang 20 persen kebutuhan Indonesia. Perlu memahami juga kondisi umum dan geografis Bojonegoro.

Baca Juga :   Pemkab Bojonegoro Dukung Penertiban Sumur Tua

Secara administrasi Bojonegoro dibagi menjadi 28 kecamatan dengan 419 desa, dan 11 kelurahan dengan luas wilayah keseluruhan 230.706 hektar dengan jumlah penduduk 1.209.258 jiwa. Di sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Nganjuk, Madiun dan Ngawi.

Di sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Lamongan, di sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Tuban, dan di sebelah barat berbatasan langsung dengan Propinsi Jawa Tengah, tepatnya Kabupaten Blora. Sebanyak 40,15 persen wilayah Bojonegoro merupakan wilayah hutan Negara, yang sebagian besar berada di wilayah selatan Bojonegoro. Sebanyak 32,58 persen  berikutnya berupa lahan sawah yang sebagian besar berada di sepanjang aliran sungai Bengawan Solo. Sebanyak 22,42 persen merupakan tanah kering,  dan sisanya sebanyak 4,85 persen  adalah perkebunan dan lain-lain.

“Sementara ada juga isu strategis terkait kondisi sosio-ekonomi yang perlu diperhatikan,  yaitu masih ada 4,18 persen tingkat pengangguran. Rata-rata masyarakat sekitar area proyek adalah petani atau buruh tani yang berpotensi menjadi pengangguran akibat kehilangan lahan pencarian,” imbuhnya.

Dia ungkapkan, untuk isu strategis terkait kondisi sosio-ekonomi yaitu kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM). Yaitu masih rendahnya rata-rata kualitas SDM lokal, skill yang tidak kompetitif  untuk pekerjaan bidang migas.

Baca Juga :   BUMD Pengelola PI Blok Tuban Masih Proses Kajian UGM

“Oleh sebab itu Pemkab menekankan kepada operator dan kontraktor migas mengarahkan program CSR mereka sebagian untuk pelatihan, dan sertifikasi yang berguna dan bermanfaat,” tandasnya. (rien)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *