SuaraBanyuurip.com – Winarto
Bojonegoro – Banyak tradisi di sekitar pengeboran minyak Banyuurip, Blok Cepu yang hingga kini tak pudar diterpa modernisasi. Salah satu budaya leluhur itu adalah arak manten dan sunatan yang sampai saat ini masih terus dilestarikan masyarakat Desa Gayam, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.
Arak-arakan manten yang berlangsung pada Jum’at (5/7/2013) malam itu dikuti ratusan warga. Mereka keliling kampung dengan dandanan seperti karnaval. Sepasang pengantin dan dua orang bocah memakai dandanan berbeda menunggang kuda diiringi ratusan sanak saudaranya diarak kelililing Dusun Sumurpandan, Desa Gayam.
Di belakang rombongan, terlihat beberapa lelaki paroh baya penabuh rebana turut mengiringi arak-arakan sambil merapalkan do’a untuk kebahagiaan dan kelanggengan pengantin. Suara alat musik tradisional itu mengundang perhatian warga di sepanjang lorong jalan yang dilewati. Mereka bergegas keluar rumah dan berbondong-bondong melihat arak-arakan mantenan.
“Ini merupakan kebanggaan tersendiri bagi keluarganya mas yang bisa menggelar acara seperti ini,” ungkap Saeran, warga Dusun Sumurpandan yang kebetulan ikut menonton arak-arakan manten khitan tetangganya.
Tradisi arak manten dahulunya kerap dilakukan warga Sumurpandan khususnya warga yang hidup dalam kemapanan (kaya). Budaya ini bahkan sempat menjadi kebanggaan warga. Karena setiap ritual itu dilaksanakan menjadi tontonan warga.
“Jangankan cuma sunatan, acara mantenan pun dulu diarak keliling kampung seperti karnaval,” sergah Saeran.
Dia berharap, budaya seperti ini tetap dilestarikan sebagai aset desa yang kini menjadi perhatian dunia karena adanya eksploitasi migas. “Kalau ini dilestarikan pasti akan menjadi pariwisata budaya yang bisa mengangkat nama Desa Gayam,” pungkasnya.
Sementara itu selain budaya arak manten dan sunatan, masih ada tradisi nenek moyang yang hingga kini dilestarikan warga Desa Gayam. Diantaranya, sedekah bumi (nyadran), tingkepan dan tumpengan di setiap perempatan jalan.
Untuk tumpengan di perempatan jalan dilaksanakan setiap  Jumat Legi pada Bulan Sura. Waktu pelaksanaannya pun harus dilakukan menjelang sholat Mahgrib.
“Tujuannya untuk meminta keselamatan kepada Tuhan Pencipta Alam,” sambung Kepala Desa Gayam, Pujiono kepada suarabanyuurip.com.
Pihaknya sangat mendukung kegiatan masyarakat seperti itu. Karena selain melestarikan budaya nenek moyang, tradisi tersebut juga dapat dikembangkan sebagai aset desa bidang pariwisata.
“Ini merupakan wisata budaya yang patut kita lestarikan bersama,” tuturnya. (win)